Friday, September 23, 2016

Menjadi Simpanan Istri Pejabat

Menjadi Simpanan Istri Pejabat
Agen KartuQQ
LEGENDAQQ.COM | Cerita ini terjadi setelah beberapa tahun sejak aku lulus SMU, saat itu usiaku kira-kira menginjak 22 tahun, dimana keadaan ekonomi orang tuaku sedang mengalami cobaan.

Karena kesulitan ekonomi, dan karena kakakku sudah telanjur masuk universitas swasta yang sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar maka orang tuaku hanya mampu membiayai kuliah kakakku untuk menyelesaikan studinya, dan dalam kondisi ini aku terpaksa mengalah tidak mendapatkan biaya

untuk melanjutkan sekolah lagi, bahkan harus ikut berjuang mencari tambahan sesuap nasi. Namun tekadku untuk menjadi orang yang berguna tetap besar. Aku tidak boleh putus asa, aku harus melanjutkan sekolah sampai mendapat gelar sarjana, tekadku sudah bulat. Aku akan mencari uang sendiri untuk biaya kuliahku.

Aku mencari universitas swasta yang memberikan kuliahnya pada malam hari, sehingga aku dapat bekerja mencari uang pada siang hari. Tetapi bagaimana mungkin di jaman edan ini seorang lulusan SMU seperti aku ini dengan mudah dapat pekerjaan, sedangkan yang sarjana bahkan S2 saja masih banyak yang menganggur. Aku sudah bertekad, pekerjaan apa saja aku terima asal mendapatkan gaji.

Dari kantor satu ke kantor lainnya sudah aku masuki tetapi kelihatannya sulit sekali mendapatkan pekerjaan dengan modal tanpa keahlian. Tapi aku ingat pepatah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Aku tidak putus asa dan setelah ke sana ke mari dengan memakan waktu yang cukup lama, akhirnya aku mendapat pekerjaan di sebuah salon kecantikan di daerah Tebet, daerah orang-orang The Haves. Namun karena aku tidak punya keahlian apa-apa, aku hanya dijadikan tukang cuci rambut para pelanggan sebelum dipotong. Pekerjaan ini aku terima dengan ikhlas. Kata orang tua, kalau bekerja dengan ikhlas, maka di situ ada hikmah dan tidak terasa capai.

Pemilik salon tersebut seorang wanita keturunan Chaines yang baik sekali dengan postur yang mempesona. Lagi-lagi aku mulai menilai setiap wanita yang aku temukan. Usianya kira-kira antara 30 tahun dan dia belum punya suami, entah kalau menikah, aku tidak tahu sudah apa belum. Dadanya sebetulnya tidak begitu besar, mungkin kira-kira ukuran BH-nya sekitar 32C. Tapi bulat pinggulnya, aduh.. indah sekali, membuat laki-laki tidak berkedip matanya kalau mamandangnya. Dengan kebiasaan sehari-hari dia selalu memakai pakaian yang ketat, maka bentuk tubuhnya yang cukup padat, membuat postur tubuhnya sangat enak untuk dipandang, apalagi dengan kulit yang putih.

Aku sudah mulai lagi dengan membayangkan bagaimana kalau pembungkus itu tidak ada. Tapi kenapa belum ada laki-laki yang mau menikahinya? Andaikata dia menawariku, pasti tanpa berpikir panjang lagi kuterima. Oh ya teman-teman, dia selalu memakai rok mini, sehingga menambah inventaris pandangan pada dirinya, kadang-kadang terlihat paha mulusnya terkuak agak ke atas.

Pelanggan di salon itu cukup banyak, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, tetapi yang paling banyak adalah ibu-ibu yang kelihatannya usianya sekitar 36 sampai 38 tahun. Aku cukup berpengalaman menaksir usia seorang wanita. Dan dapat dipastikan yang datang adalah orang-orang berduit. Kalau pelanggan laki-laki yang banyak, itu disebabkan karena penampilan pemiliknya yang menarik, ditambah keramah-tamahan yang jarang dimiliki oleh pemilik salon lainnya yang kadang-kadang genit menggoda.

Banyak juga pelanggan rutin yang hampir tiap hari Sabtu datang, dan ini didominasi oleh kaum ibu. Dan salah satunya adalah seorang ibu kira-kira usianya 36 tahun dengan wajah cukup cantik tetapi kulit tidak terlalu putih, tapi juga tidak terlalu hitam, sedang-sedang saja. Tinggi badan kira-kira 165 cm, cukup ideal untuk ukuran seorang wanita. Ukuran BH-nya belum kelihatan meskipun dilihat dari samping, karena dia selalu memakai pakaian blouse longgar, sehingga sulit untuk memprediksi ukurannya dari luar, entah kalau nanti dari dalam.

Dan anehnya setiap dia datang, dia selalu meminta aku yang melayani untuk mencuci rambutnya, meskipun aku sedang ada pekerjaan mencuci rambut pelanggan lainnya. Bila perlu ditunggunya. Oh ya, rambutnya cukup lebat, hitam mengkilat (seperti iklan shampo di TV) dan kalau diurai, bukan main indahnya dengan potongan yang sangat bagus, dengan panjang sampai ke punggung. Hal itu yang membuat kecantikannya semakin bertambah, karena potongan rambutnya dibuat seperti potongan rambutnya Cindy Crawford.

Penampilan sehari-harinya, rambutnya disanggul modern seperti layaknya istri seorang pejabat. Dia datang setiap hari Kamis jam 09.30, hampir selalu tepat. Seringkali minta dicreambath, tetapi kadang-kadang juga hanya cuci saja. Setiap datang, dia paling sedikitnya menghabiskan uang lebih kurang dua ratus ribu rupiah, ya untuk perawatan lainnya. Sampai suatu hari, hari itu hari Rabu pagi kira-kira jam 10.00, dia datang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam salon sambil mencariku.

"Mana Rudi, mana Rudi.." katanya.

"Ya Bu.. Rudi ada di sini", sambutku sambil ketakutan, ada apa kiranya dia mencariku.

"Ah kamu, cepet cuciin rambutku segera, aku ada undangan nih. Udah agak terlambat.. maklum bangunnya kesiangan", katanya.

"Rambutnya mau diapain Bu?" kataku.

"Cuma dicuciin saja kok", katanya lagi.

"Baik Bu, di sini Bu.." kataku sambil menunjuk tempat duduk untuk mencuci rambut.

Dia langsung merebahkan tubuhnya ke kursi tersebut sambil menyibakkan rambutnya ke belakang, baunya wangi.

Aku mulai mencuci rambutnya sambil memijat-mijat kecil kepalanya, kemudian pipinya kuusap lembut dengan telapak tangan diiringi pijatan kecil. Hal ini sering kulakukan kepada pelangganku untuk merangsang syaraf rambut dan syaraf muka. Mataku dari atas kepalanya memandang tubuhnya yang telentang di atas kursi cuci.

Oh, kelihatannya dia tidak memakai BH. Hal ini terlihat dengan tonjolan dari puting susunya. Memang kalau sedang dalam posisi berdiri tidak seorang pun yang dapat melihatnya karena bajunya yang longgar. Dengan kancing blouse bagian atas terlepas satu, aku dapat menangkap belahan dada yang terkuak keluar. Kelihatannya dia tidak menyadari akan hal itu, bahkan malah memejamkan matanya, menikmati pijitan kecilku, yang sudah sampai ke lehernya.

"Rud.. kamu udah lama kerja di sini?" tiba-tiba keheningan dipecahkan suara ibu tadi.

"Baru dua bulan Bu.. saya perhatikan Ibu hampir tiap minggu ke sini ya Bu?" namun pembicaraan ini tiba-tiba terputus.

"Aduh Rud.. itu jerawat kok kamu pijit, sakit dong!" katanya sambil meraba jerawat yang dengan tidak sengaja kupijit.

"Oh ini toh, maaf Bu saya nggak sengaja. Habis sembunyi tertutup rambut sih.." kataku.

"Ibu kok jerawatan sih? Anu ya.. nggak.." aku tidak berani melanjutkan, takut ibu itu marah. Tapi malah dianya dengan santainya yang melanjutkan.

"Kamu mau ngomong, nggak tersalurkan ya? Kamu memang nakal kok", katanya acuh tak acuh.

"Rambut Ibu bagus loh, lebat dan hitam kayak yang di TV", kataku mulai berani menggoda.

"Ah masak sih.." katanya tersipu-sipu.

Memang begitulah wanita kalau mendapat pujian atau godaan meskipun dari seorang lelaki pencuci rambut, perasaannya terbang menerawang nun jauh di sana.

"Rud.. bisa nggak sih kalau cuci begini dipanggil ke rumah. Kalau bisa kan enak ya."

"Nggak berani Bu saya, nanti kalau ketahuan dimarahin. Cari kerja susah", kataku.

"Kalau aku bilang bossmu gimana?" katanya tidak mau kalah.

"Terserah Ibu, " kataku lagi tanpa bisa membela diri lagi.

"Zus.. Zus.." teriaknya langsung ke pemilik salon.

"Ada apa Bu?" jawab pemilik salon itu.

"Boleh nggak kapan-kapan aku cucinya di rumah saja. Nanti aku tambah biayanya", katanya lagi.

"Waduh Bu maaf nggak bisa Bu. Soalnya kan masih banyak pelanggan lainnya, Bu. Betul-betul maaf Bu.. tapi kalau di luar jam kerja atau pas dia libur boleh-boleh saja sih", kata pemilik salon.

Waduh, aku nggak bisa menolak deh. Bossku sudah mengatakan seperti itu. Aku nggak enak kalau mencuci di rumah, soalnya aku rasa nggak bebas, apalagi belum tentu ada kursi cuci seperti di salon. Kerjanya kurang enak.

"Tapi Bu.. di sini saja ya Bu.." pintaku.

"Kenapa? kamu nggak mau ya mencuci aku di rumah", katanya dengan nada agak tinggi.

Waduh marah nih orang, biasa istri seorang pembesar kalau kamauannya tidak dituruti cepat ngambek.

"Nggak gitu Bu, kan di rumah nggak ada kursi seperti ini Bu.." kataku menolak dengan halus.

"Siapa bilang nggak ada.. kamu menghina ya.. kalo nggak mau ya sudah", katanya semakin tinggi. Wah.. wah.. ini benar-benar marah.

"Maafkan saya Bu, saya nggak bermaksud untuk menolak permintaan Ibu. Tapi baiklah Bu, kapan Ibu mau Rudi siap kok Bu.." kataku mengakhiri permintaannya.

"Nah gitu dong.. terima kasih ya Rudi.." katanya puas.
Situs Judi
Aku terus memijit bahunya dengan jari-jariku sedikit masuk ke dalam lubang leher bajunya, "Hmm.. enak di situ Rudi", suara itu keluar dari mulutnya yang mungil. Di situ aku urut agak lama, sekitar 15 menit. Belahan dadanya semakin terkuak saat jariku turun masuk. Dari sini aku dapat melihat dan memperkirakan ukuran buah dadanya, pasti ukuran BH-nya 36 entah A, B atau C, aku nggak perduli, yang penting buah dada itu sungguh besar meskipun sudah agak turun. Cuma sampai saat itu aku belum melihat putingnya sebesar apa dan warnanya apa.

"Bu sekarang sudah setengah sebelas loh Bu, Ibu mau berangkat undangan jam berapa?"

"Nanti aku dijemput bapak jam 11 persis", katanya.

Aku berpikir, aku selesaikan 15 menit lagi kemudian mengeringkan 15 menit sambil merapikan, aku kira cukup, karena rambutnya hanya disisir dengan teruai alami saja, sehingga tidak perlu waktu banyak untuk menyanggul segala. Saat jam 11.00 tepat suaminya menjemput dan langsung pergi.

"Terima kasih ya Rud.." katanya sambil memberikan tip kepadaku, aku lihat uang lima puluh ribuan dua lembar. Aku bersyukur sekali karena uang sebesar itu pada saat itu sangat berharga. Hari itu rasanya cepat sekali berlalu. Aku pulang dari kerja jam empat sore, istirahat sebentar kemudian aku berangkat kuliah. Aku mengambil Fakultas Ilmu Komunikasi, yang tugasnya nggak begitu banyak.

Sampai di rumah jam sepuluh lewat lima belas menit, aku mencuci muka kemudian langsung beranjak ke tempat tidur. Mata rasanya mengantuk sekali tapi nggak bisa ditidurkan. Pikiranku melayang dan mengkhayal apa yang telah aku lihat pagi tadi. Buah dada yang masih segar, dengan warna coklat muda mendekati warna cream. Lama aku mengkhayal, dan akhirnya aku pun tertidur pulas.

Pagi harinya, sesampainya aku di salon, bossku menyampaikan pesan telepon dari ibu pejabat kemarin, katanya dia minta untuk dicuci rambutnya di rumah mengingat dia tidak ada kendaraan untuk jalan ke salon. Kalau aku kurang jelas supaya aku telepon balik ke sana. Aku pikir sedikit aneh, kemarin baru dicuci kok sekarang minta dicuci lagi. Tapi peduli amat, yang penting uang masuk kantong, pikirku. Kuputar nomor telepon yang diberikan oleh bossku.

"Hallo.. ini dari salon.. di Tebet, bisa bicara dengan Ibu.. aduh siapa ya namanya Ibu itu.." aku sedikit gugup.

"Ya halo.. oo.. dari salon.. dengan siapa nih."

"Dengan Rudi Bu.." kataku.

"Oh ya Rud, tadi Ibu telpon tapi kamu belum datang. Gini.. aku minta kamu datang ke rumah.. bisa? untuk cuci rambutku.. aku nggak ada kendaraan Rud",

"Maaf Bu, kalau jam kerja ini nggak bisa.. sedangkan kalau sore saya sekolah Bu.. gimana kalau besok padi Bu, kebetulan giliran saya libur", kataku.

"Aduh gimana ya.. tapi oke lah kalo nggak bisa.. besok jam berapa kamu datang?"

"Jam sembilan Bu.. ya lebih-lebih sedikit gitu.." kataku.

Esok harinya aku benar-benar datang ke alamat yang diberikan, di bilangan daerah Tebet juga. Rumahnya minta ampun besarnya. Pintu pagarnya tinggi sekali sehingga orang tidak bisa melihat aktifitas yang dilakukan oleh penghuni rumah. Aku jadi berpikir, dari mana uang sebanyak ini untuk beli rumah sebesar itu, sedangkan keluargaku untuk mencari biaya sekolah anaknya saja tidak mampu. Kupencet bell yang ada di samping pintu gerbang. Tidak berapa lama keluar seorang perempuan separuh baya membuka pintu, kelihatannya pembantunya.

"Cari siapa Dik?"

"Ee.. e.. Ibu.." aku nggak melanjutkannya karena aku belum tahu nama ibu pejabat yang kemarin. Aku juga bodoh, kenapa kemarin nggak aku tanyakan ke orang salon.

"Ibu Tia maksud adik.." katanya. Oooh, namanya Tia, baru tahu aku.

"I.. iya.. Mbak.." kataku sedikit gugup.

"Adik dari salon ya? udah ditunggu Ibu di dalam", katanya.

Aku masuk lewat pintu garasi yang menuju ke bagian belakang rumah. Di garasi berjajar dua buah mobil bermerek, warna biru tua dan silver. Aku semakin minder saja melihat pemandangan tersebut.

"Kok sepi Mbak.." tanyaku agak heran mengingat rumah sebesar itu tidak ada penghuninya.

"Kami hanya berempat Dik.. Bapak, Ibu, supir yang kebetulan adalah suami saya sendiri dan saya sendiri.. sekarang Bapak sedang pergi ke Bandung diantar supir pakai mobil dinas."

"Ooo.." hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku terheran-heran.

Aku masuk ke belakang, ditunjukannya jalan menuju ke suatu ruangan. Di ruangan tersebut, kira-kira ukuran 5 x 6 meter persegi tersedia peralatan salon lengkap dengan dua buah kursi cuci dan satu buah pengering. Untuk apa barang sebanyak ini kalau tiap minggu tetap pergi ke salon, pikirku. Memang kadang-kadang orang kebanyakan duit jalan pikirannya kurang rasional, yang dipikirnya hanya bagaimana caranya menghabiskan duitnya. Tanpa berpikir bagaimana supaya duitnya bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkannya.

Nggak berapa lama, muncul Ibu Tia di belakangku,
"Pagi Rud.."

"Pagi Bu.." kataku agak kaget.

Ibu Tia pagi itu memakai pakaian senam warna cream dipadu dengan bawahan warna merah muda, dengan rambut digelung ke atas, sehingga menampilkan lehernya yang mulus dan tergolong panjang. Keringatnya masih mengucur dari tubuhnya, membuat tubuhnya makin menempel pada baju senamnya. Kelihatan lekuk tubuhnya yang menempel pada baju senamnya, terutama bagian dadanya, nampak tonjolan kecil yang kelihatan sedikit tegak. Sedang bagian bawah, membekas belahan kecil di antara selangkangannya.

"Kamu kok bengong Rud", katanya memecah kesunyian.

"Ah nggak Bu.. saya cuma.."

"Cuman apa.. cuman ngeliatin gitu", katanya terus terang.

Ibu Tia membuka gelungannya dan menyibak-nyibakkan rambutnya ke belakang sehingga tergerai lepas. Betul-betul potongan rambut yang sangat menggairahkan menyerupai potongan rambut Cindy Crawford.

"Sekarang kita mulai ya Rud.." katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas kursi cuci. Dengan pakaian ketat seperti itu dan posisi rebahan seperti itu, kelihatan sekali kalau buah dadanya masih kencang diusianya yang 36 tahun. Buah dadanya masih mendongak ke atas dengan putingnya yang agak menonjol. Belahan dadanya terlihat di balik pakaian senamnya yang terbuka agak lebar di bawah leher. Aku termangu memandang pemandangan yang menggairahkan nafsuku sebagai laki-laki normal.

Kubuka kran air di wastafel yang telah disediakan khusus untuk cuci rambut, kumasukkan semua rambut yang panjang dan hitam mengkilap itu, mulailah aku mencucinya sampai beberapa menit. Aku lihat Ibu Tia memejamkan matanya sambil kedua tangannya bersedekap di bawah buah dadanya sehingga buah dadanya ketarik ke atas, membuat lebih jelasnya dua buah puting kembar di atas dua bulatan buah dada tersebut. Aku memandanginya sambil tanganku sedikit memberikan pijitan-pijitan kecil di kepalanya, setelah proses pencucian rambut selesai. Pemijitan mula-mula aku lakukan hanya di bagian kepala, kemudian turun di belakang leher, dan kemudian sampai di kedua bahunya.

"Nah di situ Rud.. enak Rud.. aku jarang pijat sih akhir-akhir ini.." katanya sambil matanya tetap terpejam. Sambil memijat bahunya, jari-jariku kucoba sedikit turun menuju belahan dadanya yang montok itu, sambil kuberikan pijitan kecil. Ibu Tia malah membusungkan dadanya sambil menghela nafas. Makin besar helaan nafasnya, semakin menonjol buah dadanya, dan semakin senang aku melihat pemandangan gratis ini. Aku coba lagi jariku lebih turun agak masuk ke dalam belahan dadanya, sambil terus melakukan pijitan kecil. Tapi pijitanku lebih cenderung meraba, karena saking lembutnya. Ternyata pijitanku tadi membuat Ibu Tia agak gelisah, mendongakkan kepala, menaikkan dadanya, menggeser posisi tidurnya dan lain sebagainya. Kelihatan Ibu Tia mulai terangsang dengan rabaanku tadi. Tapi Ibu Tia tidak mengadakan reaksi apapun kecuali menurut apa yang aku lakukan.

Aku semakin berani mengadakan percobaan selanjutnya. Kali ini aku sudah kepalang nekat, kumasukkan kedua tanganku ke dalam belahan dadanya dan menyentuh kedua buah kembarnya, dan kuusap keduanya dengan memutar arah keluar. Ibu Tia semakin membusungkan dadanya seakan-akan mau diserahkan buah kembar itu kepadaku dengan ikhlas. Gairah sudah menjalar ke dalam tubuh Ibu Tia.

Tiba-tiba..
"Rud.." aku kaget setengah mati, cepat-cepat kutarik kedua tanganku dari daerah terlarangnya.

"Ya.. Bu.. rambutnya mau dikeringin Bu.." kataku sekenanya untuk mengalihkan perhatiannya. Badanku gemetaran menanti apa yang akan dilakukan padaku yang telah berbuat kurang ajar tadi.

"Ma.. maaf Bu.. kelakuan saya tadi Bu.." kataku sambil menghiba.

"Oh nggak apa-apa.. enak kok.. Oh ya, rambutnya nggak usah dikeringin pakai pengering.. biar kering sendiri.. Nah sekarang teruskan pijitanmu", kata Ibu Tia seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Tapi tubuhnya digesernya ke atas, sehingga posisi dadanya semakin mendongak ke atas.

Aku menenangkan diri beberapa saat, kemudian mulai memijit-mijit lagi di bagian depan. Aku ulangi lagi apa yang tadi kulakukan. Ibu Tia diam, bahkan reaksinya di luar dugaanku. Tanganku ditangkapnya dan dimasukkan ke dalam belahan dadanya. Pucuk dicinta ulam tiba, Tanganku menyambut tarikan itu dengan buru-buru meremas kedua buah dada tersebut. Reaksinya di luar dugaan, bahkan kali ini tidak ketinggalan, pantatnya pun ikut diangkat.

"Rud.. kamu kok nakal sih.." desahnya hampir tidak bersuara.

Masih kenyal dan keras buah dada Ibu Tia. Tanganku masih menelusup ke baju senamnya meraba, meremas, dan sesekali kusentuh puting susunya yang sudah tegak berdiri. "Och.. och.." hanya itu ucapan yang keluar dari mulutnya.

Kemudian tangannya merangkul kepalaku yang berada di atasnya dan ditariknya wajahku mendekati wajahnya dan seterusnya diciumnya bibirku dengan ganasnya. "Aauch.." aku kaget bukan main. Aku tidak siap dengan gerakan tersebut, sehingga aku gelagapan dan agak terdorong ke depan hampir jatuh. Akibatnya peganganku pada buah dadanya semakin erat.

"Aduh Rud.. jangan kencang-kencang dong pegangnya.." kata Ibu Tia sambil mencium bibir, sedangkan lidahnya mulai beraksi di kerongkonganku, memutar-mutar, menyedot lidahku dengan penuh gairah. Aku tidak sabar, kulorotkan baju senamnya dari belahan lehernya turun ke bawah sampai perut sehingga terbukalah tubuh bagian atasnya, dan tersembullah dua buah dada yang indah dengan puting yang kecil berdiri tegak.

Aku merubah posisi, tidak lagi dari atas kepalanya, tetapi berada di sampingnya sambil tanganku mengusap-usap buah dadanya. Kutundukkan wajahku, kucium buah dadanya dan.. "Heh.. heh.." nafas Ibu Tia terdengar ngos-ngosan menahan birahi yang sudah memuncak. Aku jilat puting susunya, makin kelihatan memerah berkilau karena basah oleh air liurku.

"Geli.. Rud.. aduh.. eenak Rud.. huh.. huh.." kembali nafasnya tidak terkontrol lagi.

Sementara tangannya menggapai-gapai mencari pahaku, kemudian dipeluknya pahaku sekuat tenaga seakan menahan sesuatu yang akan pecah, sehingga jilatanku pada puting buah dadanya terlepas. Sekarang posisiku berdiri sedang Ibu Tia menciumi pahaku sambil mencari selangkanganku. Diremasnya pantatku yang masih padat berisi, digigitnya tonjolan di dalam celanaku.

"Aduh Bu.."

"Kenapa Rud.."

"Enak Bu.." kataku sambil terpejam merasakan kejutan yang diberikannya.

Sambil berdiri, tanganku mencari buah dadanya yang menggantung karena posisinya yang membungkuk. Kuremas, kumainkan putingnya kembali dengan sedikit memberikan cubitan-cubitan kecil, sementara gigitannya masih terus dilanjutkan. Kemudian tangan yang mulus itu mencari retsliting celanaku dan dibukanya, terus dipelorotkan sekalian celana dalamku, langsung saja kejantananku yang sudah sejak tadi tegang mencuat keluar tegak membentuk sudut 45 derajat ke atas.

Ibu Tia kelihatan kaget menyaksikan apa yang baru saja terjadi, diam sebentar kemudian mulailah tangannya memegang kejantananku dengan lembutnya sambil berdiri dan sekarang posisi kami saling berhadapan, saling memegang, tanganku memainkan buah dadanya, sedang tangannya memainkan kejantananku. Bibirnya didekatkan ke bibirku sambil berbisik,

"Rud.. aku pingin Rud.."

Aku diam tidak menjawabnya, bukan karena aku tidak mau, tapi sudah tidak ada lagi kata-kata yang bersarang di kepalaku, yang ada hanya nafsu yang sudah memuncak.

Beberapa saat kemudian langsung dikulumnya bibirku dan kami saling berpagut, lidah kami saling melilit, saling sedot. Tanganku mulai bergerilya ke bawah menelusup ke dalam celana senamnya yang tidak memakai celana dalam sehingga tanpa kesulitan sampailah aku pada gundukan yang sudah basah tertutup oleh rambut-rambut halus. Jari tengahku mencari lembahnya, kemudian terus aku sentuh klitorisnya.

"Aduh Rud.. geli sayang.."

Aku tidak peduli, aku lanjutkan gerilyaku. Aku gosok-gosok klitorisnya dengan perlahan-lahan takut kalau menimbulkan rasa sakit. Sementara tangan kananku memainkan kewanitaannya, bibirku tetap bermain dengan lidah ke dalam bibirnya, sedang tangan kiriku meremas pantatnya yang masih keras. Dan sebaliknya, tangan kanannya masih memainkan kejantananku, sedang tangan kirinya meremas pantatku juga.

Dengan gairah yang semakin besar, mulutku kuturunkan ke buah dadanya, dan kuciumi, serta aku sedot puting susunya yang sejak tadi sudah berdiri tegak dengan warna merah kehitam-hitaman. Ibu Tia menggelinjang sambil membusungkan dadanya, sambil mendesah kenikmatan dan semakin bernafsu aku dibuatnya dengan dada yang makin ke depan.

"Rud.. cepet masukin.."

Kelihatannya Ibu Tia ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan ini. Aku kemudian mengambil posisi jongkok, kupelorotkan celana senamnya maka terlihatlah olehku benda yang tertutup oleh rambut-rambut kecil yang sedikit basah sudah terpampang di hadapanku. Sambil memeluk kedua pahanya, kucium kewanitaannya dengan ganas. Aku sibakkan rambut-rambut tersebut, kumasukkan mulutku ke celahnya dan kusedot cairan lendir yang ada di sekitarnya sampai kering.

"Aach.. Rud.." teriak Ibu Tia.

"Eeh Ibu.. nanti kedengaran orang lo Bu.."

"Habis kamu nakal sih."

Dijambak-jambaknya rambutku ditekankannya kepalaku ke dalam sehingga makin kencang menempel ke dalam kewanitaannya.

"Rud.. kita ke ruang sebelah yuk.." katanya.

Sambil berpelukan kami berdua berjalan menuju ruang sebelah yang berukuran cukup besar 5 x 5 meter persegi dilengkapi meja, kursi santai dan satu sofa berbentuk empat persegi panjang. Ibu Tia membimbingku menuju sofa tersebut. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan posisi telentang dan rambutnya yang panjang dan sudah kering tersebut tergerai ke lantai.

Pemandangan yang sangat mengesankan, sebentar-sebentar Ibu Tia menyibakkan rambutnya. Nafsuku semakin menggebu, mungkin Ibu Tia sengaja untuk memancing nafsuku dengan keindahan rambutnya. Ditariknya kepalaku ke arah kewanitaannya kembali. Di situ aku teruskan permainanku. Kujilati klitorisnya, kusedot, kumasukkan lidahku dalam-dalam dan Ibu Tia merintih, "Aduh.. Rud.. enak.." suaranya hampir tidak bersuara.

Ibu Tia kemudian meyuruhku naik ke atas tubuhnya dengan kepalaku tetap memainkan kewanitaannya. Diciuminya kejantananku sambil dikocok-kocok kecil dengan tangannya.

"Aduh nikmat Bu.." adegan tersebut kami lakukan cukup lama, tetapi Ibu Tia tidak pernah memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya. Aku tidak mengerti, mungkin gengsinya masih besar, meskipun nafsu sedang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tapi dengan ciumannya dan kocokannya sudah cukup membuatku merem melek. Kujilati terus klitorisnya sehingga "Acchh.. Rud.. aku.. mau.. kee.. aduh.. aduh.. Rud.. aauucchh.. eenak.. oh ya.. oh ya.. aku nggak tahan.." Tapi aku tetap saja memainkannya sampai akhirnya Ibu Tia sudah betul-betul tidak tahan.

Dan tiba-tiba Ibu Tia bangkit dan membalikkan tubuhnya, mengangkangkan kakinya ke kanan dan ke kiri sofa, menarik kepalaku, dan sambil menciumi bibirku dia berbisik lirih, "Rud masukkan ya.." tangannya sambil memegang kejantananku menuntunnya ke lubang kewanitaannya yang sudah basah. Digesek-gesekannya kejantananku ke bibir lubangnya, kemudian.. "Bles..", masuklah kejantananku semuanya.

Ditekannya pantatku seakan-akan Ibu Tia tidak mau ada sebagian kejantananku yang tersisa. Dengan posisi kejantananku di dalam, aku diamkan beberapa saat, sambil bibirku mengulum bibir Ibu Tia dan tanganku meremas buah dadanya, terasa sedotan kecil dari kewanitaan Ibu Tia terhadap kejantananku. Enak sekali, makin lama makin keras sedotannya.

"Oh.. oh.. oh.." aku mengerang kenikmatan. "Ibu.. Ibu.. aauucch.. oh.. oh.." tapi aku tidak mau keluar duluan. Aku buang konsentrasi pikiranku ke tempat lain, dan aku mulai memompa kejantananku di kewanitaan Ibu Tia. Ganti dia yang mengerang kenikmatan.

"Aaucchh.. auch.. heh.. Rud.. aduh.. terus Rud.. lebih cepet.. auch.. aduh enak sekali Rud.." pompaanku semakin cepat dan semakin cepat, sementara puting susunya aku sedot sampai ludes.

"Ach.. ach.." hanya suara itu yang keluar dari mulut Ibu Tia. "Aduh.. aduh.. ach.. ach.." kaki Ibu Tia menjepit pinggulku, diangkatnya pantatnya, tangannya merangkul leherku dengan keras sekali dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas, terasa cairan di lubang kewanitaannya semakin deras membasahi kejantananku. Ibu Tia kemudian lemas sambil terengah-engah puas.

"Kamu hebat Rud.." tangannya tetap merangkul leherku dan bibirnya tetap mencium bibirku. Sedangkan aku tetap memompa kejantananku ke dalam kewanitaannya, basah sekali. "Saya cabut dulu ya Bu.. dikeringkan dulu.." kataku. Ibu Tia maklum atas permintaanku.

Setelah berada di luar, dibersihkannya kewanitaannya dan kejantananku dengan kain bersih, sambil tangannya mengocok kejantananku agar tetap berdiri tegak. Setelah beberapa saat aku mulai memompanya kembali di dalam kewanitaannya dan kembali sedotannya terasa pada kejantananku.

Dan.. "Aauch.. auch.." dia mengerang lagi. Lama hal ini kulakukan dan.. "Aduh Rud aku mau keeluaarr.." kelihatan Ibu Tia untuk kedua kalinya mencapai kepuasannya. Terasa sekali jepitannya semakin kencang, membuat aku tidak tahan dan aku pun ikut mencapai kenikmatan. "Aaacchh.. Bu.. Bu.." Kemudian kami pun lunglai dengan posisi aku tetap di atasnya. Kucium bibirnya.

Setelah kami sama-sama mendapat kenikmatan, aku punya kerja lagi yaitu mengkramasi kembali rambutnya tapi tidak apalah, rambut seorang wanita cantik. Sambil memelukku dan menciumku,

"Makasih ya Rud..", katanya sambil menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman telapak tanganku.

"Saya juga terima kasih, Bu.. dan maafin ya Bu kelakuan saya tadi", kataku sambil tersenyum.

"Sampai kamis depan ya Rud.."

"Wah pekerjaan lagi nih.." batinku dengan senang, kemudian kutinggalkan rumah mewah tersebut dengan perasaan puas sekali.

Demikian kisahku dengan istri pejabat, mudah-mudahan pembaca dapat menikmatinya

Tuesday, September 20, 2016

Di Belakang Suami Kelakuan Istri

Di Belakang Suami Kelakuan Istri
Agen KartuQQ
PERSELINGKUHAN SEORANG ISTRI KARENA TAK PUAS DENGAN SUAMI

Cerita Hot – Sebut saja namanya “Sidar” (nama samaran). Dia adalah seorang wanita bersuku campuran. Bapaknya berasal dari kota Menado dan Ibunya dari kota Makassar. Bapaknya adalah seorang polisi, sedang ibunya adalah pengusaha kayu.

Singkat cerita, ketika hari pertama aku ketemu dengan teman kuliahku itu, rasanya kami langsung akrab karena memang sewaktu kami sama-sama duduk di bangku kuliah, kami sangat kompak dan sering tidur bersama di rumah kostku di kota Bone. Bahkan seringkali dia mentraktirku.

“Nis, aku senang sekali bertemu denganmu dan memang sudah lama kucari-cari, maukah kamu mengingap barang sehari atau dua hari di rumahku?” katanya padaku sambil merangkulku dengan erat sekali. Nama teman kuliahku itu adalah “Nasir”.

“Kita lihat saja nanti. Yang jelas aku sangat bersukur kita bisa ketemu di tempat ini. Mungkin inilah namanya nasib baik, karena aku sama sekali tidak menduga kalau kamu tinggal di kota Makassar ini” jawabku sambil membalas rangkulannya. Kami berangkulan cukup lama di sekitar pasar sentral Makassar, tepatnya di tempat jualan cakar.

“Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol panjang lebar di sana, sekaligus kuperkenalkan istriku” ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil Feroza miliknya. Setelah kami tiba di halaman rumahnya, Nasir terlebih dahulu turun dan segera membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan aku turun.

Aku sangat kagum melihat rumah tempat tinggalnya yang berlantai dua. Lantai bawah digunakan sebagai gudang dan kantor perusahaannya, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal bersama istri. Aku hanya ikut di belakangnya.

“Inilah hasil usaha kami Nis selama beberapa tahun di Makassar” katanya sambil menunjukkan tumpukan beras dan ruangan kantornya.

“Wah cukup hebat kamu Sir. Usahamu cukup lemayan. Kamu sangat berhasil dibanding aku yang belum jelas sumber kehidupanku” kataku padanya.

“Dar, Dar, inilah teman kuliahku dulu yang pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri cantik saya” teriak Nasir memanggil istrinya dan langsung kami dikenalkan.

“Sidar”, kata istrinya menyebut namanya ketika kusalami tangannya sambil ia tersenyum ramah dan manis seolah menunjukkan rasa kegembiraan.

“Anis”, kataku pula sambil membalas senyumannya.

Nampaknya Sidar ini adalah seorang istri yang baik hati, ramah dan selalu memelihara kecantikannya. Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit langsing dan tinggi badan sekitar 145 cm serta berambut agak panjang. Tangannya terasa hangat dan halus sekali.

Setelah selesai menyambutku, Sidar lalu mempersilakanku duduk dan ia buru-buru masuk ke dalam seolah ada urusan penting di dalam. Belum lama kami bincang-bincang seputar perjalanan usaha Nasir dan pertemuannya dengan Sidar di Kota Makassar ini, dua cangkir kopi susu beserta kue-kue bagus dihidangkan oleh Sidar di atas meja yang ada di depan kami.

“Silakah Kak, dinikmati hidangan ala kadarnya” ajakan Sidar menyentuh langsung ke lubuk hatiku. Selain karena senyuman manisnya, kelembutan suaranya, juga karena penampilan, kecantikan dan sengatan bau parfumnya yang harum itu. Dalam hati kecilku mengatakan, alangkah senang dan bahagianya Nasir bisa mendapatkan istri seperti Sidar ini. Seandainya aku juga mempunyai istri seperti dia, pasti aku tidak bisa ke mana-mana

“Eh, kok malah melamun. Ada masalah apa Nis sampai termenung begitu? Apa yang mengganggu pikiranmu?” kata Nasir sambil memegang pundakku, sehingga aku sangat kaget dan tersentak.

“Ti.. Tidak ada masalah apa-apa kok. Hanya aku merenungkan sejenak tentang pertemuan kita hari ini. Kenapa bisa terjadi yah,” alasanku.

Sidar hanya terdiam mendengar kami bincang-bincang dengan suaminya, tapi sesekali ia memandangiku dan menampakkan wajah cerianya.

“Sekarang giliranmu Nis cerita tentang perjalanan hidupmu bersama istri setelah sejak tadi hanya aku yang bicara. Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari ini aku tidak ada kesibukan di luar. Lagi pula anggaplah hari ini adalah hari keistimewaan kita yang perlu dirayakan bersama. Bukankah begitu Dar..?” kata Nasir seolah cari dukungan dari istrinya dan waktunya siap digunakan khusus untukku.

“Ok, kalau gitu aku akan utarakan sedikit tentang kehidupan rumah tanggaku, yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga kalian” ucapanku sambil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu.

“Maaf jika terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini justru karena dipicu oleh problem rumah tanggaku. Aku selalu cekcok dan bertengkar dengan istriku gara-gara aku kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak dan mempu menghidupi keluargaku.

Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum aku temukan pekerjaan, tiba-tiba kita ketemu tadi setelah dua hari aku ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada hikmahnya. Semoga saja pertemuan kita ini merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesulitan rumahtanggaku” Kisahku secara jujur pada Nasir dan istrinya.

Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut sedih, bahkan kami semua terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut Nasir dan istrinya terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mereka saling menatap dan menutup kembali mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, namun malah mereka ketawa terbahak, yang membuatku heran dan memaksa juga ketawa.

“Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya, sebab kebetulan sekali kami butuh teman seperti kamu di rumah ini. Kami khan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kami selalu kesepian. Apalagi jika aku ke luar kota misalnya ke Bone, maka istriku terpaksa sendirian di rumah meskipun sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk menemani selama aku tidak ada, tapi aku tetap menghawatirkannya.

Untuk itu, jika tidak memberatkan, aku inginkan kamu tinggal bersamaku. Anggaplah kamu sudah dapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan sehari-harimu, aku coba menanggung sesuai kemampuanku” kata Nasir bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh istrinya.

“Maaf kawan, aku tidak mau merepotkan dan membebanimu. Biarlah aku cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum aku selesai bicara, tiba-tiba Nasir memotong dan berkata..

“Kalau kamu tolak tawaranku ini berarti kamu tidak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas dan bermaksud baik padamu Nis” katanya.

“Tetapi,” Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Sidar juga ikut bicara..

“Benar Kak, kami sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini kami pikirkan tapi mungkin baru kali ini dipertemukan dengan orang yang tepat dan sesuai hati nurani. Apalagi Kak Anis ini memang sahabat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak perlu ragukan lagi. Bahkan kami sangat senang jika Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal bersama kita di rumah ini” ucapan Sidar memberi dorongan kuat padaku.

“Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima dengan senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak terhingga atas budi baiknya. Tapi sayangnya, aku tak memiliki keterampilan apa-apa untuk membantu kalian” kataku dengan pasrah.

Tiba-tiba Nasir dan Sidar bersamaan berdiri dan langsung saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku, sehingga aku sedikit malu dibuatnya.

“Terima kasih Nis atas kesediaanmu menerima tawaranku semoga kamu berbahagia dan tidak kesulitan apapun di rumah ini. Kami tak membutuhkan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di rumah ini.

Kami hanya butuh teman bermain dan tukar pikiran, sebab tenaga kerjaku sudah cukup untuk membantu mengelola usahaku di luar. Kami sewaktu-waktu membutuhkan nasehatmu dan istriku pasti merasa terhibur dengan kehadiranmu menemani jika aku keluar rumah” katanya dengan sangat bergembira dan senang mendengar persetujuanku.

Kurang lebih satu bulan lamanya kami seolah hanya diperlakukan sebagai raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Sidar, tempat tidurku terkadang juga dibersihkan olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku yang kotor tapi aku keberatan.

Selama waktu itu pula, aku sudah dilengkapi dengan pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sangat malu dan merasa berutang budi pada mereka, sebab selain pakaian, akupun diberi uang tunai yang jumlahnya cukup besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui jika ia juga seringkali kirim pakaian dan uang ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.

Kami bertiga sudah cukup akrab dan hidup dalam satu rumah seperti saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya. Kebebasan pergaulanku dengan Sidar memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk membawa beras untuk di jual di sana karena ada permintaan dari langgarannya.
Situs Judi
Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Sidar nampak gembira sekali seolah tidak ada kekhawatiran apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau ia tidak takut lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan lamanya karena sudah ada yang menjaganya, namun ucapannya itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap suaminya. Nasir pun nampak tidak ada kekhawatiran meninggalkan istrinya dengan alasan yang sama.

Malam itu kami (aku dan Sidar) menonton bersama di ruang tamu hingga larut malam, karena kami sambil tukar pengalaman, termasuk soal sebelum nikah dan latar belakang perkawinan kami masing-masing. Sikap dan tingkah laku Sidar sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya.

Malam itu, Sidar membuat kopi susu dan menyodorkanku bersama pisang susu, lalu kami nikmati bersama-sama sambil nonton. Ia makan sambil berbaring di sampingku seolah dianggap biasa saja. Sesekali ia membalikkan tubuhnya kepadaku sambil bercerita, namun aku pura-pura bersikap biasa, meskipun ada ganjalan aneh di benakku.

“Nis, kamu tidak keberatan khan menemaniku nonton malam ini? Besok khan tidak ada yang mengganggu kita sehingga kita bisa tidur siang sepuasnya?” tanya Sidar tiba-tiba seolah ia tak mengantuk sedikitpun.
“Tidak kok Dar. Aku justru senang dan bahagia bisa nonton bersama majikanku” kataku sedikit menyanjungnya. Sidar lalu mencubitku dan..
“Wii de.. De, kok aku dibilangin majikan. Sebel aku mendengarnya. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, aku tak sudi dipanggil majikan” katanya.

“Hi.. Hi.. Hi, tidak salah khan. Maaf jika tidak senang, aku hanya main-main. Lalu aku harus panggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”
“Terserah dech, yang penting bukan majikan. Tapi aku lebih seneng jika kamu memanggil aku adik” katanya santai.
“Oke kalau begitu maunya. Aku akan panggil adik saja” kataku lagi.

Malam semakin larut. Tak satupun terdengar suara kecuali suara kami berdua dengan suara TV. Sidar tiba-tiba bangkit dari pembaringannya.

“Nis, apa kamu sering nonton kaset VCD bersama istrimu?” tanya Sidar dengan sedikit rendah suaranya seolah tak mau didengar orang lain.
“Eng.. Pernah, tapi sama-sama dengan orang lain juga karena kami nonton di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap keherananku atas pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit aneh itu.
“Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?” tanyanya lagi.
“Aku lupa judulnya, tapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku dengan pura-pura bersikap biasa.

“Masih mau ngga kamu temani aku nonton film dari VCD? Kebetulan aku punya kaset VCD yang banyak. Judulnya macam-macam. Terserah yang mana Anis suka” tawarannya, tapi aku sempat berfikir kalau Sidar akan memutar film yang aneh-aneh, film orang dewasa dan biasanya khusus ditonton oleh suami istri untuk membangkitkan gairahnya.

Setelah kupikir segala resiko, kepercayaan dan dosa, aku lalu bikin alasan.

“Sebenarnya aku senang sekali, tapi aku takut.. Eh.. Maaf aku sangat ngantuk. Jika tidak keberatan, lain kali saja, pasti kutemani” kataku sedikit bimbang dan takut alasanku salah. Tapi akhirnya ia terima meskipun nampaknya sedikit kecewa di wajahnya dan kurang semangat.

“Baiklah jika memang kamu sudah ngantuk. Aku tidak mau sama sekali memaksamu, lagi pula aku sudah cukup senang dan bahagia kamu bersedia menemaniku nonton sampai selarut ini. Ayo kita masuk tidur” katanya sambil mematikan TV-nya, namun sebelum aku menutup pintu kamarku, aku melihat sejenak ia sempat memperhatikanku, tapi aku pura-pura tidak menghiraukannya.

Di atas tempat tidurku, aku gelisah dan bingung mengambil keputusan tentang alasanku jika besok atau lusa ia kembali mengajakku nonton film tersebut. Antara mau, malu dan rasa takut selalu menghantukiku. Mungkin dia juga mengalami hal yang sama, karena dari dalam kamarku selalu terdengar ada pintu kamar terbuka dan tertutup serta air di kamar mandi selalu kedengaran tertumpah.

Setelah kami makan malam bersama keesokan harinya, kami kembali nonton TV sama-sama di ruang tamu, tapi penampilan Sidar kali ini agak lain dari biasanya. Ia berpakaian serba tipis dan tercium bau farfumnya yang harum menyengat hidup sepanjang ruang tamu itu.

Jantungku sempat berdebar dan hatiku gelisah mencari alasan untuk menolak ajakannya itu, meskipun gejolak hati kecilku untuk mengikuti kemauannya lebih besar dari penolakanku. Belum aku sempat menemukan alasan tepat, maka

“Nis, masih ingat janjimu tadi malam? Atau kamu sudah ngantuk lagi?” pertanyaan Sidar tiba-tiba mengagetkanku.

“O, oohh yah, aku ingat. Nonton VCD khan? Tapi jangan yang seram-seram donk filmnya, aku tak suka. Nanti aku mimpi buruk dan membuatku sakit, khan repot jadinya” jawabku mengingatkan untuk tidak memutar film aneh2.

“Kita liat aja permainannya. Kamu pasti senang menyaksikannya, karena aku yakin kamu belum pernah menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Sidar sambil meraih kotak yang berisi setumpuk kaset VCD lalu menarik sekeping kaset yang paling di atas seolah ia telah mempersiapkannya, lalu memasukkan ke CD, lalu mundur dua langkah dan duduk di sampingku menunggu apa gerangan yang akan muncul di layar TV tersebut.

Dag, dig, dug, getaran jantungku sangat keras menunggu gambar yang akan tampil di layar TV. Mula-mula aku yakin kalau filmnya adalah film yang dapat dipertontonkan secara umum karena gambar pertama yang muncul adalah dua orang gadis yang sedang berlomba naik speed board atau sampan dan saling membalap di atas air sungat.

Namun dua menit kemudian, muncul pula dua orang pria memburunya dengan naik kendaraan yang sama, akhirnya keempatnya bertemu di tepi sungai dan bergandengan tangan lalu masuk ke salah satu villa untuk bersantai bersama.

Tak lama kemudian mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaiannya, lalu saling merangkul, mencium dan seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat penolakanku tadi tiba-tiba terlupakan dan terganti dengan niat kemauanku.

Kami tidak mampu mengeluarkan kata-kata, terutama ketika kami menyaksikan dua pasang muda mudi bertelanjang bulat dan saling menjilati kemaluannya, bahkan saling mengadu alat yang paling vitalnya. Kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum.

“Gimana Nis,? Asyik khan? Atau ganti yang lain saja yang lucu-lucu?” pancing Sidar, tapi aku tak menjawabnya, malah aku melenguh panjang.
“Apa kamu sering dan senang nonton film beginian bersama suamimu?” giliran aku bertanya, tapi Sidar hanya menatapku tajam lalu mengangguk.

“Hmmhh” kudengar suara nafas panjang Sidar keluar dari mulutnya.
“Apa kamu pernah praktekkan seperti di film itu Nis?” tanya Sidar ketika salah seorang wanitanya sedang menungging lalu laki-lakinya menusukkan kontolnya dari belakang lalu mengocoknya dengan kuat.

“Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali bernafas panjang.
“Maukah kamu mencobanya nanti?” tanya Sidar dengan suara rendah.
“Dengan siapa, kami khan pisah dengan istri untuk sementara” kataku.
“Jika kamu bertemu istrimu nanti atau wanita lain misalnya” kata Sidar.
“Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kami coba nanti hahaha” kataku.
“Nis, apa malam ini kamu tidak ingin mencobanya?” Tanya Sidar sambil sedikit merapatkan tubuhnya padaku. Saking rapatnya sehingga tubuhnya terasa hangatnya dan bau harumnya.
“Dengan siapa? Apa dengan wanita di TV itu?” tanyaku memancing.

“Gimana jika dengan aku? Mumpung hanya kita berdua dan nggak bakal ada orang lain yang tahu. Mau khan?” Tanya Sidar lebih jelas lagi mengarah sambil menyentuh tanganku, bahkan menyandarkan badannya ke badanku.

Sungguh aku kaget dan jantungku seolah copot mendengar rincian pertanyaannya itu, apalagi ia menyentuhku. Aku tidak mampu lagi berpikir apa-apa, melainkan menerima apa adanya malam itu.

Aku tidak akan mungkin mampu menolak dan mengecewakannya, apalagi aku sangat menginginkannya, karena telah beberapa bulan aku tidak melakukan sex dengan istriku. Aku mencoba merapatkan badanku pula, lalu mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.

“Apa kamu serius? Apa ini mimpi atau kenyataan?” Tanyaku amat gembira.
“Akan kubuktikan keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayang” tiba-tiba Sidar melompat lalu mengangkangi kedua pahaku dan duduk di atasnya sambil memelukku, serta mencium pipi dan bibirku bertubi-tubi.

Tentu aku tidak mampu menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera menyambutnya dan membalasnya dengan sikap dan tindakan yang sama. Nampaknya Sidar sudah ingin segera membuktikan dengan melepas sarung yang dipakainya, tapi aku belum mau membuka celana panjang yang kepakai malam itu.

Pergumulan kami dalam posisi duduk cukup lama, meskipun berkali-kali Sidar memintaku untuk segera melepaskan celanaku, bahkan ia sendiri beberapa kali berusaha membuka kancingnya, tapi selalu saja kuminta agar ia bersabar dan pelan-pelan sebab waktunya sangat panjang.

“Ayo Kak Nis, cepat sayang. Aku sudah tak tahan ingin membuktikannya” rayu Sidar sambil melepas rangkulannya lalu ia tidur telentang di atas karpet abu-abu sambil menarik tanganku untuk menindihnya. Aku tidak tega membiarkan ia penasaran terus, sehingga aku segera menindihnya.
“Buka celana sayang. Cepat.. Aku sudah capek nih, ayo dong,” pintanya.

Akupun segera menuruti permintaannya dan melepas celana panjangku. Setelah itu, Sidar menjepitkan ujung jari kakinya ke bagian atas celana dalamku dan berusaha mendorongnya ke bawah, tapi ia tak berhasil karena aku sengaja mengangkat punggungku tinggi-tinggi untuk menghindarinya.

Ketika aku mencoba menyingkap baju daster yang dipakaianya ke atas lalu ia sendiri melepaskannya, aku kaget sebab tak kusangka kalau ia sama sekali tidak pakai celana. Dalam hatiku bahwa mungkin ia memang sengaja siap-siap akan bersetubuh denganku malam itu.

Di bawah sinar lampu 10 W yang dibarengi dengan cahaya TV yang semakin seru bermain bugil, aku sangat jelas menyaksikan sebuah lubang yang dikelilingi daging montok nan putih mulus yang tidak ditumbuhi bulu selembar pun.

Tampak menonjol sebuah benda mungil seperti biji kacang di tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang dan mempertinggi birahiku, tapi aku tetap berusaha mengendalikannya agar aku bisa lebih lama bermain-main dengannya. Ia sekarang sudah bugil 100%, sehingga terlihat bentuk tubuhnya yang langsing, putih mulus dan indah sekali dipandang.

“Ayo donk, tunggu apa lagi sayang. Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini” pinta Sidar tak pernah berhenti untuk segera menikmati puncaknya.
“Tenang sayang. Aku pasti akan memuaskanmu malam ini, tapi saya masih mau bermain-main lebih lama biar kita lebih banyak menikmatinya”kataku

Secara perlahan tapi pasti, ujung lidahku mulai menyentuh tepi lubang kenikmatannya sehingga membuat pinggulnya bergerak-gerak dan berdesis.

“Nikmat khan kalau begini?” tanyaku berbisik sambil menggerak-gerakkan lidahku ke kiri dan ke kanan lalu menekannya lebih dalam lagi sehingga Sidar setengah berteriak dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya seolah ia menyambut dan ingin memperdalam masuknya ujung lidahku.

Ia hanya mengangguk dan memperdengarkan suara desis dari mulutnya.

“Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh.. Sstt” suara itu tak mampu dikurangi ketika aku gocok-gocokkan secara lebih dalam dan keras serta cepat keluar masuk ke lubang kemaluannya.
“Teruuss sayang, nikkmat ssekalii.. Aakhh.. Uuhh. Aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya” katanya dengan suara yang agak keras sambil menarik-narik kepalaku agar lebih rapat lagi.
“Bagaimana? Sudah siap menyambut lidahku yang panjang lagi keras?” tanyaku sambil melepaskan seluruh pakaianku yang masih tersisa dan kamipun sama-sama bugil.

Persentuhan tubuhku tak sehelai benangpun yang melapisinya. Terasa hangatnya hawa yang keluar dari tubuh kami.

“Iiyah,. Dari tadi aku menunggu. Ayo,. Cepat” kata Sidar tergesa-gesa sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya, bahkan membuka lebar-lebar lubang vaginanya dengan menarik kiri kanan kedua bibirnya untuk memudahkan jalannya kemaluanku masuk lebih dalam lagi.

Aku pun tidak mau menunda-nunda lagi karena memang aku sudah puas bermain lidah di mulut atas dan mulut bawahnya, apalagi keduanya sangat basah. Aku lalu mengangkat kedua kakinya hingga bersandar ke bahuku lalu berusaha menusukkan ujung kemaluanku ke lubang vagina yang sejak tadi menunggu itu. Ternyata tidak mampu kutembus sekaligus sesuai keinginanku. Ujung kulit penisku tertahan, padahal Sidar sudah bukan perawan lagi.

“Ssaakiit ssediikit.., ppeelan-pelan sedikit” kata Sidar ketika ujung penisku sedikit kutekan agak keras. Aku gerakkan ke kiri dan ke kanan tapi juga belum berhasil amblas.

Aku turunkan kedua kakinya lalu meraih sebuah bantal kursi yang di belakanku lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan membuka lebar kedua pahanya lalu kudorong penisku agak keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya.

Sidarpun merintih keras tapi tidak berkata apa-apa, sehingga aku tak peduli, malah semakin kutekan dan kudorong masuk hingga amblas seluruhnya. Setelah seluruh batang penisku terbenam semua, aku sejenak berhenti bergerak karena capek dan melemaskan tubuhku di atas tubuh Sidar yang juga diam sambil bernafas panjang seolah baru kali ini menikmati betul persetubuhan.

Sidar kembali menggerak-gerakkan pinggulnya dan akupun menyambutnya. Bahkan aku tarik maju mundur sedikit demi sedikit hingga jalannya agak cepat lalu cepat sekali. Pinggul kami bergerak, bergoyang dan berputar seirama sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yangberirama pula.

“Tahan sebentar” kataku sambil mengangkat kepala Sidar tanpa mencabut penisku dari lubang vagina Sidar sehingga kami dalam posisi duduk.

Kami saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tapi tidak lama karena terasa sulit. Lalu aku berbaring dan telentang sambil menarik kepada Sidar mengikutiku, sehingga Sidar berada di atasku. Kusarankan agar ia menggoyang, mengocok dan memompa dengan keras lagi cepat.

Ia pun cukup mengerti keinginanku sehingga kedua tangannya bertumpu di atas dadaku lalu menghentakkan agak keras bolak balik pantatnya ke penisku, sehingga terlihat kepalanya lemas dan seolah mau jatuh sebab baru kali itu ia melakukannya dengan posisi seperti itu. Karena itu, kumaklumi jika ia cepat capek dan segera menjatuhkan tubuhnya menempel ke atas tubuhku, meskipun pinggulnya masih tetap bergerak naik turun.

“Kamu mungkin sangat capek. Gimana kalau ganti posisi?” kataku sambil mengangkat tubuh Sidar dan melapas rangkulannya.
“Posisi bagaimana lagi? Aku sudah beberapa kali merasa nikmat sekali” tanyanya heran seolah tidak tahu apa yang akan kulakukan, namun tetap ia ikuti permintaanku karena ia pun merasa sangat nikmat dan belum pernah mengalami permainan seperti itu sebelumnya.
“Terima saja permainanku. Aku akan tunjukkan beberapa pengalamanku”
“Yah.. Yah.. Cepat lakukan apa saja” katanya singkat.

Aku berdiri lalu mengangkat tubuhnya dari belakang dan kutuntunnya hingga ia dalam posisi nungging. Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari belakan, aku lalu menusukkan kembali ujung penisku ke lubangnya lalu mengocok dengan keras dan cepat sehingga menimbulkan bunyi dengan irama yang indah seiring dengan gerakanku.

Sidar pun terengah-engah dan napasnya terputus-putus menerima kenikmatan itu. Posisi kami ini tak lama sebab Sidar tak mampu menahan rasa capeknya berlutut sambil kupompa dari belakan. Karenanya, aku kembalikan ke posisi semula yaitu tidur telentang dengan paha terbuka lebar lalu kutindih dan kukocok dari depan, lalu kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku.

Posisi inilah yang membuat permainan kami memuncak karena tak lama setelah itu, Sidar berteriak-teriak sambil merangkul keras pinggangku dan mencakar-cakar punggungku. Bahkan sesekali menarik keras wajahku menempel ke wajahnya dan menggigitnya dengan gigitan kecil. Bersamaan dengan itu pula, aku merasakan ada cairan hangat mulai menjalar di batang penisku, terutama ketika terasa sekujur tubuh Sidar gemetar.

Aku tetap berusaha untuk menghindari pertemuan antara spermaku dengan sel telur Sidar, tapi terlambat, karena baru aku mencoba mengangkat punggungku dan berniat menumpahkan di luar rahimnya, tapi Sidar malah mengikatkan tangannya lebih erat seolah melarangku menumpahkan di luar yang akhirnya cairan kental dan hangat itu terpaksa tumpah seluruhnya di dalam rahim Sidar.

Sidar nampaknya tidak menyesal, malah sedikit ceria menerimanya, tapi aku diliputi rasa takut kalau-kalau jadi janin nantinya, yang akan membuatku malu dan hubungan persahabatanku berantakan.

Setelah kami sama-sama mencapai puncak, puas dan menikmati persetubuhan yang sesungguhnya, kami lalu tergeletak di atas karpet tanpa bantal. Layar TV sudah berwarna biru karena pergumulan filmnya sejak tadi selesai.

Aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam tanpa terasa kami bermain kurang lebih 3 jam. Kami sama-sama terdiam dan tak mampu berkata-kata apapun hingga tertidur lelap. Setelah terbangun jam 7.00 pagi di tempat itu, rasanya masih terasa capek bercampur segar.

“Nis, kamu sangat hebat. Aku belum pernah mendapatkan kenikmatan dari suamiku selama ini seperti yang kamu berikan tadi malam” kata Sidar ketika ia juga terbangun pagi itu sambil merangkulku.
“Benar nih, jangan-jangan hanya gombal untuk menyenangkanku” tanyaku.

“Sumpah.. Terus terang suamiku lebih banyak memikirkan kesenangannya dan posisi mainnya hanya satu saja. Ia di atas dan aku di bawah. Kadang ia loyo sebelum kami apa-apa. Kontolnya pendek sekali sehingga tidak mampu memberikan kenikmatan padaku seperti yang kami berikan.

Andai saja kamu suamiku, pasti aku bahagia sekali dan selalu mau bersetubuh, kalau perlu setiap hari dan setiap malam” paparnya seolah menyesali hubungannya dengan suaminya dan membandingkan denganku.

“Tidak boleh sayang. Itu namanya sudah jodoh yang tidak mampu kita tolak. Kitapun berjodoh bersetubuh dengan cara selingkuh. Sudahlah. Yang penting kita sudah menikmatinya dan akan terus menikmatinya” kataku sambil menenangkannya sekaligus mencium keningnya.

“Maukah kamu terus menerus memberiku kenikmatan seperti tadi malam itu ketika suamiku tak ada di rumah” tanyanya menuntut janjiku.
“Iyah, pasti selama aman dan aku tinggal bersamamu. Masih banyak permainanku yang belum kutunjukkan” kataku berjanji akan mengulanginya

“Gimana kalau istri dan anak-anakmu nanti datang?” tanyanya khawatir.
“Gampang diatur. Aku kan pembantumu, sehingga aku bisa selalu dekat denganmu tanpa kecurigaan istriku. Apalagi istriku pasti tak tahan tinggal di kota sebab ia sudah terbiasa di kampung bersama keluarganya tapi yang kutakutkan jika kamu hamil tanpa diakui suamimu” kataku.

“Aku tak bakal hamil, karena aku akan memakan pil KB sebelum bermain seperti yang kulakukan tadi malam, karena memang telah kurencanakan” kara Sidar terus terang.

Setelah kami bincang-bincang sambil tiduran di atas karpet, kami lalu ke kamar mandi masing-masing membersihkan diri lalu kami ke halaman rumah membersihkan setelah sarapan pagi bersama.

Sejak saat itu, kami hampir setiap malam melakukannya, terutama ketika suami Sidar tak ada di rumah, baik siang hari apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulakukan di kamarku ketika suami Sidar masih tertidur di kamarnya, sebab Sidar sendiri yang mendatangi kamarku ketika sedang “haus”.

Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung, tapi yang jelas hingga saat ini kami masih selalu ingin melakukannya dan belum ada tanda-tanda kecurigaan dari suaminya dan dari istriku. END

ADUQ | POKER | BANDARQ | DOMINO99 | CAPSA SUSUN | BANDAR POKER

Friday, September 2, 2016

VIPDOMINO.CASINO | AGEN KARTUQQ KENAKALAN SAAT MUDA (part 1)

Agen KartuQQ
VIPDOMINO.CASINO - Entah suamiku itu tau atau tak, karena sejak kita membina hubungan sebatas kawan namun layaknya orang yg berpacaran, aku sering kali tertangkap basah sedang melamun,  sembari memegangi liontin tersebut, bahkan sampai ketika ini dan aku simpulkan bahwa Suamiku tau itu namun tak menanyakan lebih lanjut untuk membahasnya, karena dia juga pernah bilang, sebuah memory bisa terlahir dari kejadian yg menyakitkan, dan tak usah dihapuskan, karena perihal itu pastilah indah, cuma pemilik memorylah yg merasakan keindahannya, dan dia sangat berhak untuk menikmatinya, namun yg tak kalah penting bahwa, kita jangan terlarut terus di dalemnya, jalanilah kehidupan ini dengan penuh resiko dan tanggung jawab sebagaimana mestinya. Begitulah nasihatnya padaku, dan kata-kata itu seringkali dia lontarkan, setelah itu juga aqu akan merengut manja dan memeluk honey ke dadanya yg bidang. Diapun pasti membalas pelukan sembari mengecup Cinta di sekitar dahi dengan penuh kasih sayang.

“Cekreett !!”
Aku menoleh ke arah pintu yg terbuka, dimana seseorang bermuka handsome tersenyum dibaliknya, suamiku…Bang Billy !!

“halo cantik…Istriku honey…sudah siap ?? aku, bunda dan yg lain tinggal nungguin kamu loh..”kata suamiku tersenyum mesra.

“Iya Honey…bentar lagi yah…tinggal pakai sepatu kok”kataku tersenyum manis, masih memegangi liontin tersebut, dia melihat tanganku yg menjawabnya sembari memegang liontin itu, dan memperlihatkan mimic muka

“Gotcha…!! Ketangkep deh gw…^ ^”, akupun langsung kontan melepas peganganku pada liontin itu dan langsung menyengir tanda tak enak seolah-olah meminta maaf.

“Ya sudah…jangan lama-lama ya kalo ngelamun hehehe”tawanya meledek,
Aku cuma menjulurkan lidah sedikit karena malu tertangkap basah olehnya.

“Iya Honey…maaf yah…”balasku dengan pipi merona karena malu.

Setelah pintu tertutup, aku kembali merias diri dengan cepat, akhirnya usai dan turun menuju ruang makan. Menyantap makan malam bersama suami beserta segenap family. 
Aku sesekali menyuapi sang suami tercinta dan langsung banyak kata-kata godaan dari orang sekitar mengenai pengantin baru dsbnya, terutama dari adik perempuannya Bang Billy, sebagai pengantin baru tentu kita begitu hangat dan mesra, Ibu mertuaku juga sudah memaaafkan aku, dia sudah mengerti bahwa siapa sesungguhnya yg menjadi korban.

“Gimana honey…enak ‘gag ayam kremesnya..??” tanya Bang Billy sembari menyeka sisa-sisa makanan di sekitar mulutku dengan selembar tissue.

“Hhmm…enak..enak banget…apalagi kalo desert-nya ciuman kamu” kataku dengan mengecup tangannya merespon kasih sayangnya.

Bang Billy mengecup dahi-ku dan semua tersenyum karena melihat kita berdua begitu mesra. Setelah usai makan malam kita berpamitan hendak kembali ke kamar, kebetulan beberapa kawan Bang Billy juga turut dalem perayaan besar-besaran ini, namun kawan-kawanku tak, kawan-kawan Bang Billy lebih dekat dengan keluarga Bang Syarief karena sering menginap bermain guitar Aqustik di rumahnya.

“Billy…Istri sih istri…namun inget anak orang jangan kasar-kasar hehehe..”ledek Dodik salah satu kawan Bang Billy.

“Hehehe sialan loe…”jawab Bang Billy sembari menyikut perut kawannya itu.

Mendengar suamiku diledek kawan-kawannya, aku langsung menggelayut manja pada lengan Bang Billy yg macho itu karena dia seorang pecinta Karate, untuk membuat kawan-kawannya iri padanya. Setelah itu kita berlalu meninggalkan mereka, di depan tangga Bang Billy tiba-tiba mengangkat badanku yg mungil jika dibandingkan dengan badannya itu, lelaki normal pun kecil jika disejajarkan dengan dia, aku cuma menjerit kecil sembari memukul manja dadanya dan kuakhiri dengan tersenyum semanis mungkin, kedua tanganku bergelayut ke lehernya, menandakan sebuah kepasrahan dari seorang perempuan pada lelakinya, betina ke pejantannya, istri terhadap suaminya.

Menuju ke pintu kita beradu mulut dengan mesra, sampailah kita di depan pintu, aku bertugas membuka pintu yg masih terkunci itu, tiba-tiba,

“Aaawh…iih Abang Iiiihh…Haawh”kataku manja karena dia sengaja menurunkan badan pada bagian leher seakan-akan menginginkan aku jatuh, walaupun aku tau bahwa itu tak mungkin. Dia cuma tertawa senang karena berhasil meledekku.

Kita masuk ke kamar untuk melakukan ritual malam pertama, Bang Billy menaruhku di sisi ranjang, setelah itu dia berlutut di depanku dan mengambil sesuatu dari kantong jas hitamnya, yg berupa kotak perhiasan, bentuknya panjang dan sebagai perempuan aku tau bahwa itu adalah sebuah liontin. Aku terima pemberiannya dan kubuka, ternyata betul sebuah liontin, jauh lebih indah dari yg kukenakan ketika ini, dan pasti jauh lebih mahal karena memang Bang Billy seorang eksekutif muda yg sukses, manager keuangan muda, tampaknya secara tak langsung dia ingin aku untuk melupakan semua memory, melepas dan menggantinya dengan sebuah lembaran yg baru, lembaran kehidupan yg putih bersih, dimana pada sampulnya tertulis namaku dan namanya. Itu harus dipaksakan, sebagaimana jika kita ingin mengajari anak, jika tak bisa dengan cara halus, maka harus dengan cara kasar untuk mencambuknya, karena hidup memang keras, dan semua itu bertujuan untuk kebaikannya kelak.

Begitu juga ketika ini, maka aku yg langsung mengerti bergerak mencopot liontin lamaku, liontin yg diberikan oleh Mas Daryanto…yah, itulah namanya, pacar masa SMU-ku, cinta pertamaku, lelaki yg pertama kali melindungiku bahkan mempertaruhkan nyawanya untukku. Aku menaruh liontin itu di meja, Bang Billy dengan gentle memakaikan liontinnya ke leher jenjangku yg berkulit putih dan mengakhiri dengan mengecup leherku penuh cinta, aku sangat menyukai pemberian Bang Syarief suamiku, namun kalau boleh jujur ketika itu aku masih tak rela melepas liontin Mas Daryanto, walaupun aku juga tak menolak pemberian liontin dari suamiku tercinta, cuma saja aku belum siap untuk betul-betul melupakan semua.

“Naaahh…kan kamu lebih cantik honey !!”godanya,

Aqu cuma menggigit bibir bawah dan tersenyum semanis mungkin ke arahnya, senang akan pemberian sang Suami, aku mengecup dahi Suamiku, aku ingin dia tak merasa resah dan kuatir bahwa aku masih mencintai lelaki lain dan kurang mencintainya, itu salah. Aku cuma belum siap untuk memilih antara memory dan kenyataan. Kita bergenggaman tangan, aku memajukan bibir menantang, dan kita pun berpagutan dengan panas, saling menelanjangi satu sama lain, ranjang pun bergoyang bagai ombak di lautan yg diterpa badai, suara kita bergemuruh menambah ramainya kamar pengantin bertebar bunga itu, Aku beruntung sekali mendapatkannya…

Bang Billy seorang perjaka!! Lelaki yg selalu mengenakan jas layaknya eksekutif, handsome, kaya raya, pekerja mapan, baik hati, lemah lembut tutur katanya dan selalu mengalah padaku yg egois ini ternyata seorang perjaka, sebuah keberuntungan cinta yg luar biasa!! Aku yg malah merasa tak enak terhadapnya, aku merasa tak pantas untuknya, lelaki sepertinya pantas mendapatkan seorang perawan tulen yg cantik dan tak kalah mapan, baik itu harta maupun jabatan, namun itulah suatu bentuk keadilan Tuhan, ketetepannya tak pernah kita ketaui sebagai manusia, aku cuma bisa bersyukur.

Tak ada tes memang untuk keperjakaan itu, namun aku tau dari gerakan sex-nya yg sangat kaku, justru aku yg mengatur tempo, dia cuma tinggal menyerang secara alami dan diapun lama kelamaan terbiasa. Namun kuputuskan memakai gaya konvensional saja, agar prosesi persebadanan kita lebih mudah, kuselipkan sebuah bantal di bokongku dan diapun langsung pintar menyambutnya. Malam pertamaku bersama Bang Billy sangatlah terasa singkat, tak terasa waktu telah menginjak tengah malam, dimana matahari malam tersenyum bulat lebar.
Aku terbangun di ketika malam hendak meninggalkan gelapnya menuju cerahnya sinar pagi, mendekati waktu subuh, aku melihat seketika ke arah Bang Billy yg tampak masih kelelahan, walaupun dia seorang pemula dalem perihal sex, namun tenaganya sangat bisa menguras tenagaku dari bertahan, bahkan mampu membuatku klimaks beberapa kali, mungkin dikarenakan badannya yg tegap, jantan dan suka berolah raga kasar itu. Aku membelai sayang rambutnya, sampai pandanganku tertuju pada suatu benda di atas meja, yg tadi kutaruh ketika memakai pemberian Bang Billy, liontin Mas Daryanto!! Aku mengambil liontin itu dan menggenggamnya, aku melihat kembali suamiku dan akan kuputuskan sesuatu perihal yg seharusnya kuputuskan dari dulu diketika aku mengenal Bang Billy, yaitu meninggalkan pahitnya sebuah MEMORY.

Kuambil kimono putih hotel dan berjalan keluar, beberapa kawan Bang Billy ternyata bergadang, mereka menyapa dan sempat meledek menggodaku mengenai asiknya malam pertama kita, aku cuma tertawa dan melayani obrolan mereka dengan singkat. Akhirnya aku berhasil keluar menuju sisi pantai, mereka sempat menanyakan aku mau kemana namun aku cuma menjawab ada perlu sedikit di lobby hotel. Aku berdiri di sebuah tembikar, melihat kosong ke gumpalan buih dilautan, aku kembali teringat seluruh kisah hidupku yg penuh lika-liku, pelik namun banyak sekali perihal yg bisa dipetik.

Semua perihal itu yg dinamakan bumbu kehidupan, pengalaman yg bisa diajarkan kelak ke anak cucu kita sekalian, dimana isinya Suka Duka Benci Cinta Dendam Rindu Pahit Manis Hitam Putih dsb. Liontin itu kupandang di genggaman tangan kananku, Akupun melamun teringat semua memory, ketika itu….Dimulai ketika aku masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

(flash back masa SMP)

“Mis…bokin lu Mis…kesini lu…dari tadi gue udah curiga !!”kata Silvia sahabatku,

“Ada apaan sih…ngagetin aja..gue lagi baca !!”kataqu protes,
Karena sedang bersiap-siap untuk ulangan mendadak.

“Sini ah…!!”katanya menarik lenganku secara paksa,

Akupun menuruti ajakan sahabatku itu, menuju kantin terus berjalan ke belakang, di sana 
ada sebuah ruangan kecil untuk menaruh obat-obatan yg dipakai ekskul palang merah, karena sedikit sekali peminat ekskulnya ruangan itu menjadi kosong, sebenarnya cuma bisa dikatakan gudang. Salah seorang sahabatku yg lain, sudah berada di depan pintu ruangan itu yg sedikit terbuka, wanita itu bernama Jessy, mulutnya meruncing sembari menunjuk-nunjuk ke arah ruangan itu, semakin kuayunkan langkah kakiku dan semakin dekat ke ruangan itu, jantungku semakin berdegup cepat, Deg…!!

Aqu melihat seorang lelaki berpakaian basket sedang mencium seorang wanita, yg kutau mereka adalah Febry pacarku dan Sephin adik kelas, kawan-kawanku akhir-akhir ini sudah sering memberi peringatan atas kelakuan Febry, cuma saja ketika itu aku belum melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, bukan aku tak percaya oleh para sahabatku.

“Eh Gila…!!”kataku dengan nada galak dan to the point.

Sontak mereka berdua terkejut mendengar suaraku, tambah lagi bukan cuma ada aku, 
(Damn…ketangkep gw) dari mimik muka Febry. Muka Sephin ketakutan melihat muka marah kakak-kakak kelasnya yg terkenal sangar itu ke arahnya, dia berani menyambut ajakan Febry karena memang Febry salah seorang siswa yg berprestasi dalem basket, kakak kelas handsome pujaan perempuan ketika itu.

Sebagai wanita yg pada dasarnya feminim, Aku tak lama melihat marah pada mereka, aku langsung lari menuju kelas dituruti para sahabat-sahabatku yg tau bahwa aku akan menumpahkan air mata kekecewaan Cinta, kecewa sekali aku pada Febry mantan pacarku, kesucianku kuserahkan padanya, memang itu kesalahan wanita remaja masa kini, namun sebagai perempuan aku selalu bermimpi dia akan selalu setia padaku selama-lamanya, gembel itu malah mencampakkanku mentah-mentah, dan dalem waktu yg singkat. Kawan-kawanku mencoba menenangkanku karena bel istirahat hendak berbunyi,
Betul saja.

“Teng !! Teng !! Teng !!” Bel pun berdentang.

Aqu mencoba menghapus semua cairan yg membasahi sekujur mukaku, karena bukan cuma ada lelehan air mata yg mengalir. Kawan-kawanku juga berebutan memberikan aku tissue dan sejenisnya, Guru sempat menanyakan karena mukaku Mukidik belur, aku cuma bisa berdalih tak sehat, dan ketika itu juga aku diijinkan pulang sekolah, syukurlah karena ketika itu ingin ulangan, bisa-bisa jeblok nilaiku gara-gara perihal yg tak bisa diputar balik. Menurut kabar, para sahabatku mendatangi kelas Sephin ketika pulang sekolah, menerornya habis-habisan sampai dia juga menangis, sejak itu pula tak ada yg berani memacari Febry mantanku, dia mencari wanita lain di luar sekolah.

Ended to be a broken bitches.

Sejak ketika itu aku berubah, di antara kedua sahabatku ini yg paling badung sebenarnya Jessy, kita bertiga bertemu ketika kelas 1 dan terus menjadi sahabat sampai kelas 3, bukan karena muka kita bertiga blasteran, kita cuma nyambung dan cocok saja ketika bercanda ria. Jessy sudah merokok ketika itu, kita berdua cuma meledek dengan batuk-batuk jika si Jessy baru saja mengambil Zippo dari tasnya, dan dia cuma protes.

“Belum juga dinyalain..!!”gerutunya pada kita sembari tersenyum, tau bahwa sahabatnya sedang meledeknya karena tak suka dengan asap rokoknya, setelah itu dia tetep akan menyalakan, menghisap dan menghembuskannya sengaja ke arah aku dan Silvia.

Kejadian itu merubah perangaiku, aku juga turut merokok bahkan Silvia pun juga, karena merasa se-geng otomatis pergaulan menyeretnya. Bahkan yg tadinya aku ini dikenal dikelas dengan pelajar berprestasi, dengan berlalunya waktu merasakan patah hati semua itu luntur. Ibuku sempat memarahi perubahan itu, dia menggerutu-gerutu dengan keluhan mencari uang susah, uang bayaran sekolah sekarang mahal, dsb. Ketika itu aku belum tau bagaimana perjuangan keras orang tuaku dalem menghidupi kita, yg hutang sana hutang sini untuk mencari sesuap nasi dan uang sekolahku, pada ketika itu persis setaun setelah krisis moneter pertama sekitar taun ‘98, dimana banyak Perusahaan besar yg bangkrut, PHK dimana-mana, sampai usaha kecil seperti ayah-ku pun gulung tikar. Aku malah berpaling dan mementingkan perihal yg sama sekali tak penting. Aku ngobrol sembari menghisap rokok bersama kedua sahabatku di bagian belakang sekolah.
“Mis..lu ga bisa lah begini terus…mending lu luapin aja ke suatu perihal”kata Jessy.

“Suatu hal gimana Huff…”jawabku sembari meniupkan asap rokok sampai mengepul.

“Ya kaya gue aja hehehe jadi lega loh…”saran Jessy.

“Gila lu Jess…”kata Silvia yg tau maksudnya,.

Jessy pernah mengalami masa patah hati sepertiku ketika ini sekitar 2 tahun yg lalu, ketika ini kita kelas 3 SMU, dia lebih dulu mengalami perihal ini, dan waktu itu kita berdua yg menghiburnya, perihal yg serupa juga dialami Silvia setaun setelahnya. Mereka berdua meluapkan masalah mereka pada sex bebas, Jessy ketika itu menghampiri Pak Mukidi satpam sekolah dan bercinta habis-habisan, satpam sekolah itu tentu ho-oh saja diajak bugil dan fly to the sky oleh wanita SMP blasteran macem Jessy yg cantik Indo, dan sejak ketika itu pula sampai kini mereka masih sering melaqukan hal itu kapanpun dan dimanapun.

Begitu pula Silvia dengan Pak Slamet tukang sapu sekolah kita yg juga mengurusi kebun, tak jarang aku atau Jessy menangkap basahnya sedang meng-oral Pak Slamet, tukang kebun itu sangat menyukai sekali dengan keahlian Silvia yg satu itu, short time sex mereka pasti perihal ini. Silvia memang terkenal dengan muka manis dan bibir tipis sexynya yg seringkali dihiasi lipgloss pink, sebab itulah Pak Slamet seringkali sange berat dengan sepongan mulut ajaib Silvia. Tadinya Silvia yg dengan nakal menggoda Pak Slamet, namun sekarang malah jadi dia yg sering diseret Pak Slamet untuk menghisap kejantanannya sampai disuruh menelan air maninya, agar muda terasa lebih muda dan gagah katanya berdalih mesum.

“Hhmmh…boleh juga tuh Jess..bener juga sih Sil”katakuu pada Silvia,

yg sebenarnya tak ingin kalau aku menuruti jejak lonte mereka, karena dari awal memang mereka berdualah yg nakal, meskipun harus kuakui juga bahwa aku bukanlah perempuan yg lurus karena juga sudah melaqukan sex di masa muda, cuma saja belum seliar yg dilakukan kedua sahabatku itu.

“Seru kalee…!!”tambah Jessy.

“Iya tapi sama siapa yah…??”tanyaku pada mereka.

“Hhmm itutuh…nganggur Bandot !!”sahut Jessy menunjuk ke arah Mang Trimin.

Lelaki berumur 50-an, hitam legam, berkumis tipis, badan sedang dalem artian tak gendut seperti Pak Slamet gaco’an Silvia, namun juga tak segagah Pak Mukidi satpam gebetan Jessy itu. Pak Slamet berumur 45-an sementara Pak Mukidi atau Mukidi berumur 40-an. Jessy blasteran U.K England, ayahnya yg sering pulang pergi itu jarang mengawasi anak wanitanya, sementara ibunya sibuk arisan dan suka main gigolo, bisa dibilang Jessy wanita broken home, kedua orang tuanya sudah jarang berbicara walaupun bergelimangan harta benda, itulah yg membuatnya menjadi wanita nakal, sedangkan Silvia blasteran Kanada, orang tuanya tak jauh beda dengan Jessy, cuma saja ayah Silvia tak sering pulang pergi, namun seringkali ribut dan bertengkar dari sebuah perihal yg tak perlu, jika aku dan Jessy main ke rumahnya, pasti perihal ini kita temui. Keadaan kita hampir sama.

Sedangkan aku yg bernama Miska Anjani seorang wanita pribumi, ibuku asli Bogor, setelah dinikahi ayahku yg asli Jakarta, mereka pindah dan menetap di Jakarta ini, dari darah ibukulah yg membuat aku memiliki kulit putih, jadi kita adalah 3 wanita berkulit putih, walaupun kulit putih kita bertiga memiliki tipe yg berbeda, kalau aku putih Asia, Jessy putih khas Eropa dan Silvia putih khas Amerika. Mang Trimin tersenyum saja melihat kita bertiga melempar pandangan ke arahnya, dia sedang memegang tempat sampah untuk memenuhi pekerjaannya sebagai pembersih WC dan tukang sampah.

“Eh eh…taruhan yuk..siapa yg bisa bikin si Trimin itu paling sange..dia pantes ditraktir dinner sama clubbing !!”kata Jessy jalang.

“Ok…siapa takut…namun ntar kalo dia udah sange gimana??”tanya Silvia.

“Yee kan tanggungan si Miska dong…kan emang Trimin buat Miska…kitakan udah ada!!” jawab Jessy.

“Iya Mis ya…Deal nih ?!”tanya Silvia tegas.

“Oke…siapa takut !!”jawabku yg ingin segera menghilangkan stress karena cinta itu.

Jessy yg paling jalang diantara kita itu langsung mulai menggoda Mamang dengan menumpukkan kedua kaki jenjangnya seperti para lonte yg hendak menawarkan diri, rok biru SMP-nya yg pendek itu menambah pemandangan paha Jessy, beruntungnya Mang Trimin, kali ini para lontenya tak menuntut sesenpun darinya, cuma berniat mengosongkan kantung air maninya yg geleber-geleber karena berumur itu.

Mang Trimin langsung menelan ludah melihat betis Jessy yg mulus itu, Trimin Jr. yg berada di selangkangan Mang Trimin langsung bangun tanpa weker, celana Mang Trimin menonJessl dibagian itu, kita sebenarnya geli sekali membuatnya mupeng seperti itu, namun mengasyikan kadang berbuat jalang seperti ini, melupakan sejenak masalah hidup. 
Silvia yg tak mau kalah, berpura-pura menggaruk-garuk pacuma.

“Aduuh..kok gatel sih…” katanya sembari menahan tawa melihat Mang Trimin mulai ngos-ngosan gairah berat. 
Sruukk..!!, tiba-tiba Silvia wanita manis hypersex itu menarik ke atas rok pendek di atas lututnya sampai terlihat dua buah gagang paha putih mulus milik wanita remaja, dan celana dalem yg berwarna hitam tipis menerawang tanda perempuan sedang horney berat.

“Edededeh…”kata Mang Trimin langsung melepas satu tangan berpegangan pada tiang di situ agar tak jatuh, tangan satunya masih memegangi tempat sampah. 
Silvia belaga blo’on menggaruk-garuk paha putihnya itu, seolah-olah tak ada orang, si Jessy dan aku cuma kembali menahan tawa.

(Wah giliran gue nih…gimana yah??)”pikirku dalem hati,

“Eleh eleh…lo juga gatel Sil ?kataku sengaja mengeraskan suara.

“Iya nih..”sahut Silvia juga keras, masih sembari menggaruk kedua paha putihnya.

“Kalo gue disini…”kataku, membalikkan badan, menungging dan menarik rokku ke atas, sembari berpura-pura menggaruk bokongku yg putih padat itu, Gumprang !!

“Adaawh…!!”teriak Mang Trimin, karena kakinya kejatuhan tempat sampah dari besi itu dan berputar-putar memegangi sebelah kakinya yg kesakitan, sampah pun langsung berserakan. Pegangannya pada tempat sampah langsung lepas karena lemas melihat aku menungging dan membuka rok untuk memamerkan badan yg kupunya.

“Ha ha ha ha…”tawa kita bertiga penuh kegelian.

Kita langsung toss five menandakan kekompakkan kejalangan kita, sukses besar yg membuat mupeng makhluk yg dinamakan lelaki. 
Mang Trimin langsung jatuh kelelahan karena terus berjingkrakan, aku kasihan juga pada dia dan langsung mendekatinya, kedua sahabatku malah meledekiku.

“Cie ileh…yg pedekate hahahaha”tawa Jessy meledek, dan Silvia juga menyambutnya dengan tawa manisnya.
Aku cuma berbalik ke arah mereka sembari merengut tersenyum kecil.

“Aduh Mang maaf yah…sakit gag ??”tanyaku berjongkok di dekat kakinya,
Sesampai rok-ku tersingkap dan otomatis paha putihku langsung dipelototinya.

“Aduuuhh…Neng Miska dehh…kalo becanda jangan keterlaluan dongh !”katanya sembari melirik ke dalem rok-ku, melihat celana dalem hitam super tipisku.

Dia protes namun tak menunjukkan kemarahannya, mungkin karena dikasih pemandangan gratis yg membuat Trimin Jr. berdiri tegag siap lari marathon itu.

“Iya Mang maafin kita yah…”kataku memohon sembari memijiti kakinya yg tertimpa tempat sampah itu. Dia menelan ludah menikmati pijitan tangan putih halusku.

“Ya udah..namun Mamang nanya…buat apaan sih pada kaya gitu…bikin nanggung …sabun Mamang pan abis !!”katanya protes, dikiranya kita cuma ingin membuatnya onani saja.

“Hhmmm…ok deh…kalo Mamang pengen tau…”kataku mengerlingkan mata genit.

“Jess…Sil…sini lu…!!”panggilku pada mereka.
Sahabatku itu berjalan dengan nakalnya mendekati kita, melenggag-lenggokkan bokong bagaikan seorang lonte high class.

“Apaan Mis…kan ini jatah lu..!!”kata Jessy meledek.

“Begituannya iya ntar gue sendiri…namun Mamang pengen kita bertiga minta maaf bukan gue sendiri”kataku.

“Ooohh…ok deh kalo gitu”jawab Jessy mengerti langsung berjongkok disampingku.

“Mang bangun Mang..!”perintah Jessy galak.

“Hah…ma..mau pada ngapain Neng ?”tanya Mamang bingung-bingung namun horney.
Pikirannya pasti ngeres melihat kita berdua Jongkok dihadapannya, dua wanita blasteran yg terkenal cantik dan sexy berlutut di hadapannya belum ditambah Silvia, walaupun dia belum tau akan di eksekusi dengan kenikmatan seperti apa oleh kita.

“Udah ah…berdiri cepet…mau dikasih enak gag lu…?!”sahut Jessy galak-galak gairahin.

Membuat Mang Trimin dikirimkan CD demo berjudul “Mari Bercinta” oleh Trimin Jr. di selangkangan karena gairah abis, sampai membuat antrian panjang berjuta-juta air mani di kemaluannya yg sudah mengambil nomor urut seperti antri beras saja.

Mamang berdiri disusul Silvia berjongkok, kini aku ditengah, disebelah kiri Jessy dan di sebelah kanan Silvia, tonjolan Mang Trimin tepat dihadapanku, tanganku membuka kait celana lusuhnya, setelah terlihat reseletingnya, dengan bitchy kugigit reseleting itu dan menariknya turun, kreeett !!

Jdugg…!! “Mmph…!!” kemaluan Mang Trimin yg sudah mengeras itu langsung keluar kandang ingin berkenalan dengan alam barunya dan menampar mukaku. Sontak aku terkejut dan menjerit kecil namun teredam karena masih menggigit reseleting celananya yg membuat si Jessy dan Silvia tertawa, aku langsung mencubit bokong kedua sahabatku itu karena malu, meraka cuma mengaduh.

Aku menarik muka kedua sahabatku melalui jambakan lembut pada rambut mereka, aku menarik lebih turun celana Mang Trimin beserta celana dalemnya yg bermerk “Hings”, Silvia yg menggemari oral sex itu, mendahului kita dengan meraih kemaluan Mamang untuk mengocoknya, Jessy berinisiatif menggelitik buah kemaluan Mamang, aku memuntir kepala kemaluannya sembari memijit-mijitnya dengan jari jempol dan telunjukku. Lengkaplah sudah, Mang Trimin bagaikan raja minyak yg sedang dilayani para selir-selirnya, Jessy kadang-kadang meminta bagian untuk mengocok-ngocok gagang Mamang dengan gencar, Mang Trimin blingsatan dengan kocokan Jessy yg tak kalah ahli pada Silvia, malah Jessy terkesan menunjukkan keahliannya.

Kita bertiga memulai dengan menjilatinya dari buah kemaluan, pangkal sampai kepala kemaluan, lidah kita bertiga menjilati masing-masing area, Mang Trimin yg mendongag keenakan sesekali melihat kebawah melihat kenakalan remaja SMP masa kini, dia memandangi muka kita satu persatu. Kita membalas tatapannya dengan mengerlingkan mata genit, dia cuma menelan ludah dan kita spontan tertawa kecil sembari terus menjilat, bahkan ditatap Mang Trimin, Jessy langsung menjilat lidah Silvia diseberangnya, bertukar ludah bahkan mencucup pangkal kemaluan Mamang kiri dan kanan berbarengan sembari melihat nakal ke arah Mang Trimin. 
Sementara aku tetep fokus mengemut dan menghisap kepala kemaluannya 
Sruuph…!! Hisapku kuat-kuat pada kepala kemaluan hitamnya yg lonjong,

“Oookhh…”desah Mang Trimin keras,

Kepalanya mendongag keatas, kemaluannya mengacung tinggi dan badannya bergetar nikmat. 
Kita bertiga memundurkan kepala berbarengan, lalu meludahi kemaluannya, Cuuh…!! 
Dengan horney kita bergantian mengocoknya, Mang Trimin menjulurkan lidah keenakan dan kemaluan itu kutangkap dengan mulutku, kini gagang itu kukuasai sendiri, aku memaju mundurkan mulut sembari mengocok-ngocok memutar pada pangkal gagangnya seperti pemain blue film saja, lalu kemaluan yg masih dimulut itu kuoper ke mulut Silvia yg langsung disambutnya dengan mulut terbuka, lalu dia oper lagi ke aku dan kuoper ke Jessy, terus begitu, dan terakhir karena mendengar desahan Mang Trimin yg sudah berat, tanda air maninya sudah antri di kepala kemaluannya, aku kuasai sendirian, kedua sahabatku cuma menjulurkan lidah untuk membantunya membangkitkan gairah gairah Mamang dengan mendesah sexy bersamaan dan memusiki kocokan tanganku pada kemaluannya, aku juga menjulurkan lidah di depan Mang Trimin siap dicumshot (semprot air mani) di mukaku bersama kedua sahabat cantik-ku. Mang Trimin ingin mengambil alih kemaluannya dengan mengocoknya sendiri, namun Jessy dan Silvia tampak tak mengizinkan, bagaimanapun ini hukuman berupa kenikmatan, si Jessy memegangi tangan kanan Mamang dengan tangan kirinya, dan Silvia sebaliknya. Beberapa detik kemudian, ketika tanganku sedang mengocok sembari menjilati kemaluannya tiba-tiba dia medesah panjang dengan muka mendongag ke atas, mulut hitam Mamang menceracau keenakan.

“Eeengghh..Nengh…bapakh..keluaaarhh..!!”

“Leeehh….”dengan Horney kita bertiga menjulurkan lidah sembari mendesah nikmat dan.

“CROOOTTT…!! JRUOOTT !! BLAARR !! CROTT !!” Cairan putih kental dan berbau khas memancar dengan derasnya membasahi muka kita dalem kocokanku, baju sekolah kita juga otomatis kecipratan.

Kita mendesah sexy dan mengerang mengiringi erangan nikmat Mamang di setiap semburan air maninya, seakan-akan kita juga merasakan kenikmatan yg dirasakan oleh Mamang ketika itu, kemaluannya kupompa dengan meremasnya kencang dalem genggamanku agar semua tabungan air maninya kosong, bahkan Jessy dan Silvia juga turut-turutan mengocok kemaluan Mamang. Jessy malah memencet gemas kepala kemaluan yg sedang sensitif-sensitifnya memuncrati air mani itu. Mang Trimin nampak mendesah-desah keenakan dan kelabakan. Setelah tak ada yg keluar lagi, kita saling menjilati air mani yg membanjiri muka, beradegan lesbian dengan beradu mulut panas, Mang Trimin yg masih kelelahan cuma melihat kita kembali bergairah, tangan kananku masih mengocok-ngocok kecil pada gagang kemaluannya yg semakin layu itu.

“Weleh weleh…ngentot ga ngajak-ngajak lo Min”kata lelaki berbadan gempal, yg tak lain adalah Pak Slamet.

“Wah…Non Jessy kemana aja…Bapak cariin dari tadi juga”kata lelaki berpakaian satpam, yg tak lain adalah Mukidi atau Pak Mukidi.

“Pintu gerbang udah lo kunci Ba..??”tanya Pak Slamet pada Pak Mukidi, agar situasi aman dalem sekolah.

“Udah ko…bisa party kita..wah nambah pasangan nih Met..!!”sahut Mukidi.

“Iya gaayah…kecuali kalo nambah Trimin doang…rugi atuh hehehe !!”kata Pak Slamet.

Mereka berdua menghampiri kita, Pak Slamet masih memegang sapu lidi di tangannya, dia sehabis menyapu di pekarangan depan karena kita ketika itu berada di belakang dekat kantin sekolah.

“Eh…elu pade…gue juga baru mulai nih…!!”sahut Mang Trimin.

Pak Mukidi dan Pak Slamet yg telah terbiasa melakukan perihal ini pada kedua sahabatku itu, langsung menurunkan celananya untuk memulai sex party dengan oral,

“Ba…gue pinjem mulut lonte lu ya…?” kata Pak Slamet kurang ajar, mengacungkan kemaluan pada Jessy.

“Ooohh…sama-sama dah yak!!” sahut Mukidi yg juga mengacungkan kemaluan pada Silvia.

Kawan-kawanku yg cantik namun hypersex itu, sudah biasa di lecehkan seperti itu, dan langsung menyambut dengan oral sex pada lelaki buruk muka di depannya.

“Weleh…Neng Jessy lonte lu Ba…?? sialan lu ga pernah ngajak-ngajak pada..!!”protes si Trimin.

“Hehehe sorry Bos…masalah laen bagi-bagi…masalah duit sama kemaluan…nehi !!”jawab si gendut Slamet.

Sembari di oral oleh Jessy, Pak Slamet membuka kancing baju sekolahnya dari atas sampai bawah dan memelorotkannya lewat atas, sesampai badan Jessy yg sexy itu menjadi bahan bakar bagi gairah gairah Mang Trimin yg baru pertama kali mengalami sex secara beramai-ramai ini. Begitu juga Silvia yg sedang di oral dan kemudian ditelanjangi Pak Mukidi. Mang Trimin kemudian melihat ke arahku, saking gairahnya, dia melepas celana dan baju yg ia kenakan di depan kita semua, Pak Slamet dan Pak Mukidi cuma tertawa maklum.

Mang Trimin menaruh pakaiannya sembarangan di tempat biasanya anak-anak sekolah menongkrong dan bergosip setelah makan di kantin. Sembari bugil dia langsung menyeretku ke arah sebuah kelas yg tak jauh dari situ dan tentunya sudah kosong, dia menuntunku dari belakang, sembari berjalan dia menyingkap rok-ku dari belakang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tangan hitamnya itu langsung jahil menggeraygi paha belakang dan meremas bokongku, Cuuph…!!,  Sesekali tukang sampah sekolahku itu menciumnya, sampai membuatku terangsang juga dan bersedia untuk digarap sepuas-puasnya.
Sesampai di kelas, aku menuju meja belajar terdekat dan menelungkup, menunggingkan bokongku tinggi-tinggi dengan sexy untuk memancing kembali gairahnya yg tadi sudah tersalur melalui ejaqulasinya yg pertama, Mang Trimin menyingkap naik rok-ku sampai keatas pinggang, dia melepitnya agar tak turun ketika aku tersodok-sodok, dan langsung menarik lepas celana dalemku, tukang sampah sekolahku itu meremas dan mengecup gemas bokongku memberi peringatan berupa rangsangan.

Celana dalemku direngkuhnya, Mang Trimin mencium bagian dalem celana dalemku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yg sudah basah oleh lendir kemaluanku akibat horney. Aku semakin terangsang dengan tingkah udiknya itu, aku dan Mang Trimin sama-sama baru pertama kali mengalami sex liar ini,

“Wangi bingit Neng Miska…enyak !! baru lendirnya aja udah enak, apalagi kemaluannya” puji si gembel berumur itu. Dia memakai celana dalemku di kepalanya sebagai topi.

(Oh Yess…!!) kagumku padanya dalem hati.

Melihat ke belakang ke arah kemaluannya yg belum lama menyemprotkan air maninya itu dan sekarang kembali mengacung tegag siap menembak. Ketika itu aku merasa sexy sekali, aku menggerakkan kedua tanganku ke belakang, kedua jari tengahku yg lentik karena memakai kutek hitam, aku posisikan di bibir kemaluanku, membuka lebar-lebar dan sengaja memamerkan padanya lubang kemaluan yg merekah berwarna merah muda, Glekk…!!suara Mang Trimin menenggag ludah terdengar olehku dan semakin membuatku merasa sexy.

“Aaannghh…!!”desahku spontan, karena Mang Trimin tak tahan dan menusuk kemaluanku dengan jari tengah kirinya sampai masuk semua.

Badanku menggelinjang disertai suara desahan ketika tangannya mengorek-ngorek lubang kemaluanku, jariku yg tadi membuka kemaluanku langsung berpindah meremas ke pinggiran meja belajar sekolah itu. Mang Trimin mendekatkan mukanya yg terlihat penuh gairah itu ke bokongku yg menungging, tangan kanan hitamnya mengelus dan meremas bokong sebelah kananku, dengus nafas beratnya terasa di area selangkanganku. Dengusannya pindah ke bongkahan bokong kiriku, Leeph…!!

“Aauuhh…!”desahku ketika di menjilati salah satu daerah sensitive perempuan itu.

Badanku terasa panas dingin dibuatnya, dengan jilatan di bokong dan korekan jarinya yg nakal itu di kemaluanku, jari itu seakan-akan ingin mengetaui apa saja isi di dalemnya. 
Disapukannya dengan telak lidah kasarnya pada kulit bokong putih sekalku itu, diciumi, bahkan digigit kecil sesampai aku menjerit menerima rangsangan erotis Mang Trimin. 
Dia ingin menarik lepas jarinya dari kemaluanku, jari yg terdiri dari 3 (tiga) buku-buku itu mulai terlepas satu-persatu, Satu..Dua.., ketika menuju ketiga, kemaluanku spontan tak rela dan menjepitnya.

“Whuuaa…!”reaksinya norak, merasa jarinya terjepit kencang kemaluanku yg liat namun basah itu. Aku tarik-tarikan dengannya, namun…Jleebbh…!!

“Aaannggh…!!”desahku, karena Mang Trimin mengerjaiku dengan mencoblos kemaluanku dalem-dalem.

“Hak hak hak hak…”tawanya mesum karena berhasil mengerjaiku.

"Ehhm..Shiit !! si tua bangka ini pandai membangkitkan gairah…)keluhku dalem hati.
Dia mengulangi lagi dengan menarik kembali jari tengahnya, Satu..!! Dua..!! ketika menuju ketiga, kemaluanku kembali spontan tak rela dan menjepitnya, Aku yg kini tengah horney bersiap-siap untuk menerima tusukannya, namun…Plooph…!!

“Aauuhh…”desahku.

Sial, Mang Trimin menarik kasar jarinya tiba-tiba sesampai membuatku tak sanggup menahan derita gairah ini ditambah sedang horney-horneynya. Dia menghirup jarinya yg sudah berselimut lendir kemaluanku.

“Hhmmh…wangi tenaaan..!!”katanya.

“Mmmhh…Enyaak..gurih rek kemaluan Neng Miska !!”komentarnya, 
Sembari mengulum jari tengahnya yg belepotan lendirku, aqu balik melihatnya.

Ooh…ini sex liar pertamaku, aku baru pernah merasa sexy seperti ini, kedua sahabatku berhasil menggali bakat hypersex-ku, menanamnya bersama dalem diriku dan merubah kehidupan sex-ku seperti mereka. Bahkan Febry mantanku pun tak bisa membuatku melayang, bersamanya aku memang merasa cantik karena mendapatkan salah satu bokink paling keren di sekolah, namun tak membuatku merasa sexy seperti perlakuan Mang Trimin padaku. Mamang memposisikan kedua tangannya pada kedua sisi pinggangku, matanya melihat nanar pada kemaluanku yg terpampang jelas, seolah-olah ingin menelannya, spontan kakiku merentang lebar siap menerima serangan mesumnya, nafas dan degup jantungku seirama semakin cepat, ketika aku melihat muka Mang Trimin yg sama sekali tak handsome itu mendekati kemaluanqu, 30 cm..20 cm..10 cm..5 cm, Hap…Nyam !!

“Iyaaaahhh….”desahku, ketika dia melahap bibir kemaluanku dengan ganas.

Clek..clek..clek..clek..!!
Lidah kasar Mamang keluar masuk kemaluanku, aku cuma bisa mendesah dan mendesah menerima serangan gairahnya. Lidahnya nakal sekali menyentil-nyentil itil-ku, mulutnya yg hitam itu mengemut kemaluanku dengan penuh gairah hewani.

Tak lama kemudian kurasakan badanku terbakar, aku tak bisa bertahan lebih lama lagi dan mengerang sejadi-jadinya menggeliat sembari memeluk meja erat-erat.

“Iyaaahh…!!”eranganku ketika mencapai klimaks.
Crreett…Cret…Seerr…Crrt !! Erangan panjangku itu menandakan klimaksku bersamaan dengan mengucurnya lendir cinta dari selangkanganku. Cairan yg meleleh dari kemaluanku dilahapnya dengan raqus sampai terdengar suara menyeruputnya, aku mengejat-ngejat di atas meja belajar itu.

“Neng Miska…jangan tidur dulu…kemaluan Mamang belum ngerasain kemaluan Neng Miska pan..!”katanya ditelingaku.

Aku merasakan kemaluannya di bibir kemaluanku, Aaahh…badanku masih merasa lelah sekali sehabis klimaks barusan, dia baru ingin menyentakku lagi.

Zrreeekk…!!

“Aaaukkh…”erang kita ketika kemaluannya menyeruak masuk kemaluanku.
Mang Trimin menekan masuk kemaluannya paksa sesampai aku merasakan kemaluanku seperti tersobek, badanku terbelah dua. Kepalaku yg tadinya tergeletak menyamping, langsung spontan meringis ke depan, mulutku membentuk huruf U namun badanku masih tengkurap tiduran di atas meja. Mang Trimin langsung bergerak brutal menyebadaniku, tampaknya dia tak perduli dengan kelelahan badan yg kuderita, dia ingin menggapai klimaksnya.

“Eengghh…busyeet…seret tenan kemaluan Neng Miska…Hhuuunngghh…!!”kejannya.

“Iyyaaahh…!!”desahku, ketika Mang Trimin menghentak kasar masuk kemaluannya.

Sembari menyentak, dia menyibak seragam belakangku sampai punggung putihku terlihat olehnya dan langsung dijilatnya, Bra-ku tak dilepasnya agar aku tak merasakan sakit pada payudara karena tidur bergesekan dengan meja. Jilatannya sampai kurasakan pada leher jenjangku sampai akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yg tebal dan kasar itu.

Huueeekk…!!bau nafasnya sungguh tak sedap, entah makan apa Mamang tadi pagi, namun lidahku tetep menuruti permainannya dengan liar sampai ludah kita bertukar dan menetes-netes sekitar bibir. Dia berpegangan pada sisi meja depan dekat mukaku, sementara aku berpegangan di sisi belakang meja dimana bertepukan dengan paha hitam berbulunya yg penuh dengan peloe di sekujur permukaannya. Mang Trimin nampak mendekati ejaqulasinya, mulutnya menceracau sembari menyentakku kasar terpental-pental sampai meja belajar yg kutiduri bergeser searah dengan sentakannya, terlihat sekali Mang Trimin ini ingin membalaskan dendam gairahnya, karena tadi kakinya kubuat memar tertimpa tempat sampah, sentakan kemaluannya itu seolah-olah menginginkan kemaluanqu juga memar.

“Aaaannghh…Aaaannghh…Maanngh…Ampuunnhh…IyYaAaaAahHh…!!”

“Gila kemaluan lu…gilaa kemaluan luu…gilaa kemaluan luuh…HuUuunngghh !!”desahnya,
Tak lama kemudian kurasakan beberapa semburan cairan kental hangat yg membanjiri lubang kemaluanku, yg dituruti oleh meledaknya cairan klimaksku, Mang Trimin menikmati sisa-sisa klimaks sembari memelukku, kita berkeloJesstan berdua bersama-sama dibarengi dengan kejangan-kejangan di kemaluan dan kemaluan masing-masing. Sisi meja pada bagian dekat kemaluanku banjir sudah, lelehan lendir cinta klimaksku dan air mani Mang Trimin membanjirinya, setelahnya Mang Trimin duduk di bangku sebelah dekat mejaku, tiba-tiba, Braaakk…!!, pintu terbuka.

“Aaahh…Aaahh…Yeesss…Fuck me…Deepeer…!!”desah Silvia,
Dia sedang digarap Pak Mukidi dengan gaya monyet memanjat pohon kelapa, tentu dengan postur satpamnya yg tegap kekar itu, bukan suatu perihal yg sulit untuk mengangkat atau menaik turunkan badan Silvia, walaupun badan Silvia tergolong tinggi karena blasteran. Karena ini perihal yg baru buatku melihat kegilaan kedua sahabatku ini, maka kupaksakan sedikit tenagaku untuk menoleh melihat kegiatan seks mereka, Pak Mukidi dan Silvia melakukan posisi seks itu sembari berjalan mendekati bangku guru.

Tak jauh dari pintu kTriminar erangan Jessy dan desahan nikmat Pak Slamet, kulempar padangan dan betul saja, Pak Slamet sedang asyik men-doggy Jessy, wanita cantik Indo-Euro se-profile dengan Nadine Chandrawinata itu dijambak rambutnya oleh tukang sapu dan kebun sekolah itu, tangan kiri Pak Slamet menampar-nampar bokongnya yg putih sekal, muka cantik Jessy merigis setiap kali tangan gempal Pak Slamet mendarat di bongkahan padat nan montok Jessy. Tangan kirinya sesekali juga membetot pundak Jessy kebelakang berlawanan dengan hentakan kemaluannya ke depan. Pak Slamet menyeringai mesum ketika mata kita bertemu pandang, dia seolah-olah bangga bisa menggarap sahabat cantikku itu di depanku, memang sahabatku Jessy itu salah satu wanita incaran para bokink, cuma patah hatinyalah yg membuatnya tak ingin memiliki pacar lagi sejak kelas 2.

Pak Mukidi tiba-tiba medesah keras seperti kerbau, Silvia menjadi semakin menjerit-jerit karena kemaluannya ditumbuk paksa dalem-dalem agar menjepit dan memberikannya kenikmatan, tiba-tiba Pak Mukidi mendudukkan diri sesampai kemaluannya menghentak dalem-dalem kemaluan Silvia, Jleeegg…!!!

“Aaaakkhh….!!!”erangan nikmat mereka berdua,

CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Pak Mukidi mencapai klimaksnya bersamaan dengan Silvia, cairan mereka meluber dari kemaluan Silvia, mereka mengejat-ngejat nikmat sembari berpelukan dan bertatap-tatapan, setelahnya Pak Mukidi mendudukkan Silvia pada meja guru, Silvia yg merasa kelelahan langsung menyenderkan diri di dinding, duduk mengangkang memperlihatkan kemaluannya yg memar kemerahan namun dipenuhi gumpalan cairan kental putih pekat yg masih meneretes keluar, Pak Mukidi yg masih mengenakan baju satpam tanpa celana sepotong pun juga, mengambil rokok dari kantung baju satpamnya, menyalakan dan menawarkan ke Silvia yg disambutnya, si cantik blasteran Kanada itu menaruh rokok di mulut tipis sexynya, dan Mukidi menyalakan api untuknya, mereka menghisap rokok dan ngobrol yg aku tak dengar, Silvia mengerlingkan mata kirinya dengan genit ke arahku karena aku melihat ke kemaluannya yg Mukidik belur karena ulah kemaluan Pak Mukidi.

Kita mempertemukan senyum karena keadaan kita sama-sama porak poranda akibat oknum petugas sekolah bejat, tak lama aku mendengar Pak Slamet menggeram seperti seekor kerbau.

“Huuunngghh….!!” Tukang sapu berbadan gemuk itu mencapai ejaqulasi dengan menyentak kasar sahabatku Jessy yg cantik itu dari posisi menungging doggy style sampai jatuh tengkurap ditindih badan gendutnya itu, Jessy cuma menjerit-jerit pasrah dengan rambut merahnya yg dijambak Pak Slamet, bokongnya yg sekal itu melekat ketat dengan perut bagian bawah Pak Slamet yg dipenuhi bulu, buah kemaluannya bertemu sapa dengan bibir kemaluan, tukang sapu gemuk itu mengejat-ngejat keenakan, bisa dilihat dari mukanya, kaki Jessy sampai menekuk dan menendang-nendang punggung berlemak tukang sapu tua itu.

Dia terus menekan kemaluan itu di masa ejaqulasinya, Pak Slamet terus saja menggenJesstkan kemaluannya di lubang keperempuanan Jessy, dibenamkan kemaluan gemuknya itu dalem-dalem untuk menuntaskan ejaqulasinya, sembari memutar-mutar kepalanya seperti orang gila. Tukang sapu sekolah itu sampai bergidik nikmat menuntaskan ejaqulasinya meneteskan sisa-sisa air maninya di dalem kemaluan Jessy sebelum terkapar lemas dan menindih Jessy. Tak lama kemudian, Pak Slamet pun bangkit meninggalkan Jessy sahabat cantikku yg masih terkapar, kulihat kemaluannya masih lemas diselimuti lendir air mani menjijikkannya yg putih pekat dan kental.
“Woi Min…nyobain kemaluan Miska dong…!!”kata Pak Slamet asal pada Mang Trimin.
(Ooh Crap…bakal tuker pasangan sampe kelenger nih gue ‘n temen-temen Damn..!),
Keluhku dalem hati.

“Woi woi…ntar dulu Met..lo entotin perempuan lo dulu nih, Miska gue duluan si Trimin Jessy, baru elo Miska, gue Jessy, si Trimin Silvia..!!”protes Pak Mukidi mengatur.

“Oh iya ya…ok deh..!!”sahut Pak Slamet mudah, tak memikirkan kondisi badan kita.

“Siap Bos…asyiik !”kata Mang Trimin semangat sembari hormat, dia berlari menuju pintu luar ke arah Jessy yg terkapar, dan membangunkannya untuk dibuatnya lagi semaput.
Pak Slamet meninggalkanku mendekati Silvia dan Pak Mukidi.

“Sana Ba…garap Miska…gantian…gue udah kaga sabar pengen ngentotin dia !” kata si gendut Slamet.

“Set dah…gairah bener kagag sabar…!! Entot aja dulu nih perempuan loe…enak bingit lo Met kemaluannya..pantes lu doyan bener !!”sahut Pak Mukidi.

“Iya tuh Pak…si gembrot ini doyan bingit ngentotin gue ampe kelenger kaya Jessy tuh!” tunjuk Silvia pada Pak Mukidi keluar. Dimana Jessy masih terkapar dan sedang disadarkan Mang Trimin. Pak Mukidi cuma tertawa melihat ke arah luar.

“Ya iyalah…Neng Silvia ini kan udah cantik kemaluannya seret lagi !!”pujinya mesum.
Silvia cuma tersenyum sembari menghembuskan asap rokok ke arah Pak Slamet, dan Pak Slamet cuma menyeringai dan melirik ke selangkangan Silvia yg terbuka lebar.

“Waduuh…gila lu Ba…kemaluan Neng Silvia ampe Mukidik belur gini !!”protes Pak Slamet.

“Ehehehe…nyori…abis enak pisan sih…”sahut Pak Mukidi enteng.

“Weleeh…mana banyak pejunya lagi !!”gerutunya lagi.

“Ha ha ha ha…yahh..si Jessy sama Miska juga paling sama keadaannya..”kata Pak Mukidi membela diri.

“Ya udah…kita bersihin dulu aja ya biasa..!!”usul Pak Slamet.

“Ok deh…gue bangunin Miska dulu…!!”jawab Pak Mukidi.

Pak Mukidi membangunkan badanku yg masih terasa sedikit lemas, dia memapahku untuk menuju keluar kelas, yg entah untuk apa aku tak tau menahu, dan kemudian di dudukannya aku di lantai sebelah Jessy yg sudah pulih duduk. Kita melihat ke dalem kelas.

“Yuk Neng…sini !!”. Sreet…!! tarik Pak Slamet kasar pada pergelangan kaki Silvia yg mengangkang.

“Hmmph…savar Vak !!”kata Silvia tak jelas kata-katanya, karena di bibir tipis sexynya masih terdapat rokok A Mild  yg mengepul. Setelah sampai di sisi meja guru, tukang sapu sekolah itu juga memapah Silvia, tangan gempal si gendut itu memapah Silvia pada bagian paha dan melingkari punggung menangkup payudaranya. Mereka bertatap-tatapan seperti pasangan bulan madu saja, Silvia memberikan rokok yg ditangannya untuk dihisap Pak Slamet, setelah itu mereka berpagutan sampai keluar kelas.

“Yak okey…langsung nih ya !!”kata Pak Slamet.

“Ok Bos…!!”jawab Pak Mukidi. Aqu dan Mang Trimin belum mengerti benar maksudnya.

Pak Slamet menurunkan Silvia dan berlalu meninggalkan kita, tak lama dia mengambil ember berisi air, dan menaruhnya dekat selokan (saluran air dari genteng sekolah jikalau hujan), juga botol cairan yg kutau milik Silvia untuk pembersih kewanitaannya agar kemaluannya selalu bersih dan wangi.

“Ayo lonte-lonte…!!”kata Pak Slamet dan Pak Mukidi sembari menepuk tangan.

Seperti lonte saja, Jessy dan Silvia bangun dan menyeretku, aku bingung apa maksud mereka, (Ooh Shiit !!), dalem hatiku. Silvia dan Jessy berjongkok seperti mau pipis di kamar mandi saja, mereka seperti mengambil jarak, mata jelita Jessy mengedipiku agar aku juga berposisi sama dengan mereka. Untuk solidaritas akupun menurutinya, lalu Pak 
Slamet dan Pak Mukidi mengambil posisi berjongkok juga di depanku dan Silvia.

“Deng…itutuh…si Jessy..lu mau gag ??”ancam Pak Slamet raqus.

“Oyaya…hehehe maklum belum mTrimin (nyambung) aku…”jawab Mamang.

Pak Slamet dan Pak Mukidi mengambil air bergantian, membasuh kemaluanku dari panasnya gesekan kemaluan Mamang tadi, Pak Slamet juga membersihkan kemaluan Silvia dan kadang-kadang jari gemuknya ditusukkan ke dalem kemaluan Silvia sampai si manis itu mendesah sexy. Begitu juga Pak Mukidi melakukannya padaku, aku dan Silvia yg berpegangan di bahu mereka, cuma bisa mendesah sembari mencakar atau menancapkan kuku-kuku jari kita yg lentik ke bahu mereka, jika tusukan jari mereka terlalu dalem.

Mang Trimin mengangguk-angguk tanda konek, dia juga mengambil gayung dan hendak disiramkan ke kemaluan Jessy yg memar dan belepotan air mani menjijikkan hasil karya Pak Slamet, namun Jessy mencegahnya, Mang Trimin bingung, dia melihat muka Jessy mengejan cantik dan, Cuuuuurr….!! Pissing, Jessy pipis di depan Mang Trimin, tukang sampah itu hampir semaput melihat wanita SMP, bermuka Indo, berambut sedikit pirang, cantik jelita, berkulit putih berbadan aduhai, pipis di depan matanya, Jelegeerr…!! Bagaikan disambar geledek, akupun belum pernah lihat langsung, secara walaupun kita sesama perempuan, Mang Trimin melotot tajam penuh gairah, dia yg juga sudah bugil dan juga sudah mulai konak sedari tadi melihat para wanita-wanita cantik itu berjongkok, kemaluan itu semakin mengacung tinggi.

“Huak hak hak…ajiiib…baru pernah gue liat perempuan kencing…cantik pula orangnya !!” komentarnya senang mendapat pengalaman baru. Setelah usai dia membasuhnya dan membilasnya dengan sabun pembersih keperempuanan milik Silvia yg diambil Jessy.

Para lelaki berumur itu tampak senang sekali memandikan kemaluan kita, cukup lama juga mereka membersihkannya. Mang Trimin yg baru pertama kali paling tak tahan, dia terkadang mengangkat pinggang Jessy lalu melahap kemaluannya sampai air basuhan yg ada di kemaluannya kering kerontang, malah lendir kemaluan yg terproduksi. Selanjutnya dia menyeret Jessy ke dalem kelas untuk disebadaninya, menyeret Jessy pun masih dengan mukanya yg terbenam di selangkangan Jessy. Pak Slamet dan Pak Mukidi juga menyeret aku dan Silvia untuk kembali disebadani, karena masih lemas kita bertiga diposisikan menungging oleh mereka, Jessy di meja pertama dekat pintu kelas, aku ditempatku tadi deret kedua, dan si manis Silvia di deret ketiga di sebelah deretan meja guru.

Aku dan kawan-kawanku cuma bisa mengerang-erang tak berdaya, para pejantan buruk rupa itu seperti berlomba-lomba layaknya pacuan kuda saja, kemaluanku terasa dirobek oleh kemaluan Pak Mukidi, kemaluannya panjang sekali menyodok-nyodok kemaluanku, sodokannya itu seperti ingin membelah badanku melalui media kemaluan, keadaanku ini kurasa sama dirasa oleh para sahabatku. Kita bertiga berteriak seperti orang gila, bahkan Jessy dan Silvia yg telah terbiasa dengan sex bebas seperti ini dengan mereka, tak mampu jua melayani para petugas sekolah rendahan yg haus seks itu, mereka menggebrak-gebrak meja kelas yg ditidurinya, sampai menimbulkan suara gaduh dan menggema, meramaikan suasana persengamaan kita.

Rasa frustasi karena Cinta dan jengahnya kehidupan di rumah, kita lampiaskan dengan kehancuran diri, kita tak berfikir lagi untuk masa depan, kemaluan yg seharusnya kita jaga untuk pasangan hidup terCinta kelak tak terpikirkan, semakin hancur badan yg kita rasakan semakin lega perasaan, hancur ya hancur, cuma kata-kata itu yg ada di benak kita, kita telah bulat.

“HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngGghh !!!”geram mereka, menyentak masuk kemaluan sekuat tenaga, aku sudah tak kuat, kita saling menoleh melihat keadaan masing-masing sahabat, mata kita sudah sayu sexy, menuju klimaks seks, meja yg kita tiduri pun terdorong ke depan bersamaan sampai porak poranda sebagaimana kemaluan kita, tamparan demi tamparan keras kita terima di bokong, tak kuat lagi maka akupun berteriak menuju klimaks, dituruti Silvia dan Jessy tak lama.

“Iyaaaahhh…Paaaakkhh….Aaaaaaaaaaakkhhhhh……!!!”erang kita lantang.

“Uwooooooooookkhhhh……!!!”Pak Slamet, Pak Mukidi dan Mang Trimin juga mengejang.
CROOOOTTTTS !!! CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Dan mereka bertiga pun juga menyusul ejaqulasi hampir bersamaan, badan kita berenam mengejat-ngejat nikmat, kemaluan dan kemaluan kita mengejang-ngejang, cairan lengket dan kental itu bertemu, pertemuan antara lendir kemaluan dan air mani, kemaluanku ngilu sekali ketika disembur air mani Pak Mukidi yg semprotannya kencang seperti semprotan pemadam kebakaran itu. Kemaluan itupun tak lama berhenti berkedut-kedut berhenti memancarkan air maninya, para petugas sekolah itu akhirnya menarik lepas kemaluannya dan duduk berselonJessran di lantai kelas, meninggalkan kita dalem keadaan porak poranda di selangkangan dengan posisi menungging, kemaluan memar lebam dan penuh air mani menjijikkan. Mereka bertiga betul-betul memperlakukan kita seperti lontenya saja. Berbicara tak senonoh dengan kata-kata yg Jessrok tentang enaknya kemaluan kita dsb. Setelah cukup tenaga, mereka bangkit dan hendak bertukar pasangan.

“Naaahh…dari tadi Bapak mau nyobain kemaluan Neng Miska ini hak hak hak…”tawa Pak Slamet mesum. (Oooohh…crap !! ancur kemaluan gue hari ini !!), keluhku dalem hati.
Plaaaakk…!! Plaaaakk…!!, tangan gempalnya menampari bokong sekal putihku.

Pak Slamet memasukkan paksa kemaluannya yg gemuk itu ke lubang kemaluanku, sekarang aku merasakan sesak yg dialami oleh Jessy dan Silvia tadi. Si tua gembrot itu juga tampak sesak nafas kemaluannya terjepit kemaluanku yg katanya legit. Dia menyodokku sembari meremas bokongku dengan gemas, yg sesekali ditamparnya kasar sampai menimbulkan bercak merah bergambar telapak tangan, sementara diriku masih berpegangan pada sisi meja, dimana mejaku sudah mendorong habis meja di depannya sampai mentok ke dinding, jadi ketika disodok gahar Pak Slamet menimbulkan bunyi gaduh,

“Jduk…jduk..!!”.

Kita pun kembali bersenggama bersama-sama, lagi dan terus dan terus, menjadi objek pembuangan air mani, setelah keluar air mani, mereka mencabut kemaluan dan beristirahat, lalu bertukar pasangan lagi, aku dan para sahabatku cuma pasrah menungging menjadi media pengosongan kantung air mani dan pelampiasan gairah hewani mereka.

Pokoknya hari itu sampai sore hari dimana mentari hendak menyembunyikan senyumnya, kita berenam  bercinta tanpa mengenal waktu dan rasa lelah, kemaluan kita bertiga digarap sampai terasa perih karena terus menerus dipaksa menjepit dan menggesek kemaluan mereka, punwalau pada akhirnya disembur cairan hangat dan kental sesampai membasuh lecetnya dinding kemaluan kita, keluar ruangan keadaan kita seperti sebuah benteng yg dirudal, berantakan dan awut-awutan, jalan kita bertiga menyeret karena perih di selangkangan, sedangkan para petugas bejat itu tertawa-tawa melihat keadaan kita, Jessy yg paling malang karena dengan keadaan itu dia harus mengantar kita pulang dengan mobilnya.

Kejadian itu terus terjadi setiap hari, di samping kita juga menyukai perihal itu, jadi baik itu setiap pulang sekolah, hari libur tanggal merah maupun minggu, kita selalu sex party bertiga, berpindah-pindah lokasi jika kita ingin mengganti suasana, misal : Villa Silvia, sekitar puncak Bogor, Dago Bandung, penginapan mewah Jessy di Pulau Bidadari dsb.

Memory pertama itulah yg terngiang-ngiang di kepalaku.
(Miss U Friend…Where are U…? Need U Now !!) keluhku dalem hati ke arah lautan.
Muka para sahabat-ku terbayang melayang di atas langit hitam bertabur bintang...

TO BE CONTINUED... ditunggu ya update-an nya  :D